Tokoh Adat Minta TN Kelimutu Jalin Komunikasi
Editor: Koko Triarko
ENDE – Pembangunan yang dilakukan di jalur tracking dari desa Niowula menuju ke Danau Kelimutu di kawasan Taman Nasional Kelimutu (TNK) di kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, seharusnya melibatkan Mosalaki atau ketua adat.
“TNK harus bangun komunikasi dengan mosalaki dan pihak desa. Selama ini, Balai TNK datang membangun rumah-rumah peristirahatan atau lopo, mosalaki tidak dilibatkan,” kata Gregorius Masa, Mosalaki Pu’u Wolomoni desa Niowula, kecamatan Detusoko, kabupaten Ende, Minggu (27/10/2019).
Dikatakan Gregorius, dalam adat mereka, untuk membangun sesuatu harus membuat ritual Neka Tana, menggali tanah untuk membangun rumah atau pondok.
Namun pihaknya tidak disampaikan oleh pihak TNK dan langsung dibangun lopo-lopo, sehingga hal ini disesalkan komunitas adat.

“Memang hal ini tidak disampaikan kepada kami selaku Mosalaki, sehingga kami tidak membuat ritual adat. Maksudnya baik, tetapi dalam budaya kami, kalau ingin membangun sesuat harus buat ritual adat, karena melukai tanah,” ungkapnya.
Dalam tradisi masyarakat etnis Lio, kata Gregorius, segala jenis pembangunan termasuk rumah harus didahului dengan pembuatan ritual adat Neka Tana.
Hal ini dilakukan untuk meminta restu arwah leluhur, agar apa yang akan dilakukan bisa berjalan dengan baik, dan tidak mendapatkan hambatan.
Sementara itu, Agus Sitepu, Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, mengakui pihaknya hanya melakukan koordinasi dengan pihak desa.
Menurutnya, pihaknya tidak ingin menyepelekan para Mosalaki dan selama ini para Mosalaki selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan di TNK.
“Kami hanya menyampaikan ke pemerintah desa dan kami tidak tahu kalau harus ada pembuatan ritual adat lagi,” ungkapnya.
Pemerintah daerah setiap tahun, kata Agus, bersama TNK melaksanakan kegiatan festival Kelimutu selama seminggu. Lopo-lopo menuju jalur tracking dan pasar Do di Kelimutu telah diperbaiki.
“Tapi jangan hanya TNK saja yang memberikan pelatihan dan promosi ekowisata.Perlu ada pihak lain dan desa yang harus berperan sangat besar,” pesannya.
Bartolomeus Toi, Kepala Desa Niowula, mengatakan, TNK telah banyak membantu pihaknya. Pada 2018 setelah ditandatangani perjanjian kerja sama, diberikan dana pemberdayaan sebesar Rp30 juta untuk membangun MCK di kampung adat, dan Rp10 juta untuk membangun Lopo di air terjun Muruesi.
Bartolomeus menambahkan, TNK pada 2015 ada bantuan Rp50 juta untuk pengadaan pipa air, 2016 bantu Rp25 juta untuk pembangunan balai rumah adat serta 2017 bangun Keda atau rumah adat.
“Pada 2018, pihak TNK juga membantu pembangunan MCK Rp30 juta dan lopo Rp10 juta. Pemda Ende dalam APBD 2015 juga mengucurkan dana Rp50 juta, guna membangun tempat seremonial adat Koja Kanga,” jelasnya.
Terkait jalur tracking di Niowula yang belum diminati wisatawan, Bartolomeus menduga disebabkan oleh medannya yang cukup berat.
Selain itu, tambah dia, masyarakat Niowula sendiri rata-rata petani, sehingga kalau bekerja lain agak susah. Pernah ada pelatihan kerajinan bambu, tapi tidak berjalan.
“Air terjun Muruesi juga akan dikembangkan dan pihak desa sudah diskusi dengan kelompok swadaya masyarakat dan Mosalaki,” ujarnya.