SDM Berkompetensi Dibutuhkan di Era Industri Konstruksi 4.0.
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyar (PUPR), Dr. Ir. Syarif Burhanuddin, M.Eng, mengatakan, saat ini sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sangat dibutuhkan di era industri konstruksi 4.0. Mereka juga dituntut untuk menguasai teknologi yang ada saat ini.
“Jika dulu untuk menghitung beton dan menggambar sebuah konstruksi dilakukan secara manual, sekarang sudah tidak bisa lagi karena semuanya sudah menggunakan teknologi,” ujarnya saat menjadi pemateri seminar nasional di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Kamis (31/10/2019).

Menurutnya di dalam industri kontruksi 4.0 terdapat 3 pelaku yang penting saat ini yakni penyedia teknologi, penyedia infrastruktur digital dan pengguna teknologi industri 4.0.
Hal ini menandakan bahwa semua pelaku merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
“Semua kegiatan yang dilakukan di dalam industri konstruksi 4.0 memang tidak terlepas dari semua unsur-unsur yang terkait di dalam era industri tadi. Dengan demikian sistem konstruksi yang akan dibangun, mulai dari perencanaan sampai dengan pemanfaatannya itu semua adalah bagian dari era industri yang ada saat ini,” terangnya.
Lebih lanjut disampaikan Syarif, dalam aturannya sekarang, semua tenaga kerja konstruksi harus memiliki sertifikat di bidang konstruksi. Jadi mahasiswa yang akan lulus sudah diberikan program link and match agar setelah mereka lulus bukan hanya dapat ijazah saja tapi juga dapat surat keterangan pendamping ijazah.
“Sudah dilakukan sekarang namanya belajar jarak jauh dan ini menjadi bagian untuk memudahkan agar mahasiswa setelah lulus sudah punya arah dia mau jadi ahli apa,” tuturnya.
Setelah selesai dengan surat pendamping ijazah, mereka bisa ikut lagi uji kompetensi dan setelah itu mereka akan mendapatkan sertifikat sebagai tenaga ahli muda. Setelah dia mendapatkan sertifikat tersebut dia akan punya hak untuk mendapatkan pekerjaan karena dia wajib dipekerjakan oleh penyedia jasa maupun pengguna jasa.
“Jadi kalau ada dua tenaga kerja, yang satu punya sertifikat dan satunya lagi tidak punya sertifikat, maka yang punya sertifikat inilah yang berhak mendapatkan pekerjaan,” tandasnya.
Sementara itu, Rektor ITN, Dr. Ir. Kustamar, M.T, memaparkan bahwa event tersebut menjadi upaya ITN untuk menyesuaikan diri seiring dengan perkembangan era industri 4.0.

Karena nantinya para mahasiswa akan terjun langsung ke dunia kerja, sehingga harus menyesuaikan kemampuan dan skill dengan kebutuhan di lapangan.
“Secara keilmuan di perguruan tinggi kurikulum akan kita lengkapi. Jadi semua mahasiswa juga kita arahkan paling tidak dia terampil dalam penggunaan software. Syukur-syukur kalau dia bisa mengembangkan software atau bisa coding. Tapi itu memang perlu dikerjakan secara bertahap karena mahasiswa yang sudah masuk sekarang tidak mungkin kita genjot ke sana, dan dosennya juga tidak bisa secepat itu kita kondisikan, semua harus bertahap,” pungkasnya.