Prihatin Impor Pangan, Lajang di Balikpapan Kembangkan Pertanian Digital
Redaktur: Muhsine E Bijo Dirajo
BALIKPAPAN — Pada masa orde baru, Indonesia pernah menjadi negara swasembada pangan. Bahkan, juga dikenal sebagai pengekspor beras pada masanya. Namun dalam beberapa dekade ini, impor pangan terus membanjir negara agraria ini.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sepanjang tahun 2018 pemerintah melakukan impor gula 5,02 juta ton. Kemudian garam 2,83 juta ton. Impor beras mencapai 2,25 juta ton, dan jagung 737,22 ribu ton.
Prihatin dengan kondisi tersebut, seorang lajang di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Said Muchdar (26) mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Sayur mayur dan buah-buahan berhasil diproduksi dari sejumlah kebun miliknya.
“Awalnya memang saya prihatin dengan kondisi kita yang banyak impor pangan. Sedangkan kita punya banyak kawasan yang bisa dijadikan lahan pertanian,” kata Said Muchdar tanpa bermaksud mengkritik pemerintah, Senin (28/10/2019).
Bermula dari lahan dua hektare, Said menanami kebun miliknya dengan sayuran, seperti cabai, jagung, terong, pepaya, semangka,buah naga, jambu kristal dan sebagainya. Baru tiga tahun mengeluti usaha pertanian, kini Said telah memetik sukses.
Jika awalnya hanya punya kebun di Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur, saat ini Said Muchdar sudah punya kebun yang tersebar di berbagai wilayah. Seperti kebun di Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, Teritip, dan Lamaru Balikpapan Timur, Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Buluminung Kabupaten Penajam Paser Utara yang bakal menjadi ibu kota negara. Total kebun yang dimiliki saat ini sekitar 200 hektare.
Dari hasil kebunnya, Said Muchdar tak hanya memasok kebutuhan sayur dan buah di Balikpapan. Sejak tahun lalu, ia juga mengekspor buah naga, jagung dan lengkeng ke Oman.
Memanfaatkan teknologi, ia merambah bisnis pertanian digital. Pemuda yang masih melajang ini juga mengajak masyarakat untuk bersama berbisnis tanaman pertanian.
“Saya mengajak masyarakat untuk berinvestasi di bidang pertanian. Caranya bisa memasarkan hasil pertanian di aplikasi, maupun membeli kebun,” kata dia. Para petani tanpa dipungut biaya bisa memasarkan hasil kebunnya, lengkap dengan foto, harga dan tata cara transaksi.
Ia bersama tim bahkan juga meluncurkan aplikasi play store untuk android dan app store untuk IOS yang ditujukan untuk membantu masyarakat memasarkan produk atau memiliki kebun sendiri dengan tetap dalam pengawasan pemilik.
“Melalui aplikasi Punya_kebun.id, masyarakat yang tertarik akan dibuatkan akun khusus memantau perkembangan kebunnya.” tutupnya.