Pasca Abrasi, Aktifitas Kapal Nelayan di Lengayang Kembali Normal
Redaktur: Muhsine E Bijo Dirajo
PESISIR SELATAN — Mengatasi dampak abrasi pantai di depan pintu masuk Muara Batang Lakitan, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Pemerintah Kabupaten melakukan penanganan darurat. Langkah antisipasi tersebut diambil agar dapat mempercepat aktifitas nelayan untuk kembali bisa melaut.
Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni menyebutkan, di sana terdapat sekitar 50 unit kapal nelayan yang keluar masuk di Muara Batang Lakitan. Apabila tidak segera dilakukan penanganan secara darurat, nasib perekonomian nelayan bisa terkatung-katung.
“Hal ini kita lakukan karena keterbatasan kemampuan keuangan daerah, sehingga kita baru bisa melakukan penanganan secara darurat. Walau darurat, tapi sudah cukup membantu masyarakat nelayan,” katanya, Senin (28/10/2019).
Diungkapkanya bahwa untuk penanganan secara permanen, sudah menyampaikan proposal ke Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Anggaran yang dibutuhan untuk pemasangan batu jeti itu sebesar Rp4 miliar.
“Kita berharap proposal ini bisa disetujui, agar kecemasan dan ketakutan warga tidak lagi terjadi. Di samping itu juga memberikan jaminan terhadap pusat perekonomian warga di nagari itu,” harapnya.

Sementara itu, Hasan Basri, nelayan setempat, mengatakan, abrasi pantai yang berkepanjangan sebagaimana terjadi di kabupaten Pesisir Selatan sejak beberapa tahun terakhir, telah menimbulkan kerusakan pada beberapa pintu muara sungai di daerah itu.
Menurutnya, kondisi yang cukup mencemaskan warga juga terjadi pada pintu Muara Batang Lakitan di Kecamatan Lengayang. Sebab selain mengancam keselamatan pemukiman warga.
Beruntung cepat dilakukan penanganan secara darurat melalui pemasangan karung geo bag oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pesisir Selatan sepanjang 40 meter, sehingga kapal-kapal nelayan yang bersandar di Muara Batang Lakitan, telah kembali bisa keluar masuk.
“Akibat abrasi, sempat membuat puluhan kapal-kapal yang bersandar sebelumnya pindah berlabuh ke Muara Pasar Gompong dan Surantiah,” katanya.
Zainal 56, warga lainya di Nagari Lakitan mengatakan bahwa masyarakat nelayan di negari itu, masih merasa cemas pintu muara akan kembali tertutup.
“Bila tidak dilakukan penanganan secara permanen melalui pemasangan batu jeti, kami sangat kuatir pintu muara ini akan kembali tertutup sebagai mana sebelumnya,” ungkap Zainal pula.
Dijelaskan Zainal, setiap hari tidak kurang dari 30 kapal nelayan milik masyarakat yang bersandar, dan juga keluar masuk di pintu muara itu.
“Kami harap pusat ekonomi ini jangan lagi sampai terputus akibat keterlambatan dalam penanganan,” harapnya.