Iradiasi Awetkan Makanan hingga 1,5 Tahun
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Pemanfaatan teknologi iradiasi untuk makanan, dinyatakan tidak hanya membantu para pelaku usaha dalam menjaga keawetan makanan dalam jangka waktu lebih lama. Namun, juga menjadikan makanan terjaga kesterilan dan gizinya. Sehingga, bermanfaat lebih bagi seseorang dalam perawatan medis dan konsumsi terkait bencana.
Peneliti Iradiasi Pangan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Rindy Panca Tanhindarto, menjelaskan, bahwa makanan yang diiradiasi adalah makanan yang diproduksi dengan memenuhi standar GMP.
“Tujuan iradiasi adalah mengalahkan. Artinya, yang kita awetkan adalah makanan yang baik. Intinya iradiasi itu adalah proses menjaga yang bagus tetap bagus. Bukan mengubah yang buruk menjadi bagus,” kata Rindy, saat ditemui di Indonesia Science Expo 2019 di ICE BSD Serpong Tangerang Selatan, Sabtu (26/10/2019).
Ketahanan pangan yang diiradiasi bergantung pada kondisi kemasannya. “Jika tidak rusak kemasannya, maka bisa bertahan hingga 1,5 tahun,” ucap Rindy.
Selain awet, menurut Rindy, makanan iradiasi juga bisa terjaga kesegaran dan gizinya.
“Makanan yang diiradiasi mampu meningkatkan imun dari pasien yang menjalani kemoterapi atau perawatan medis lainnya. Karena makanan ini steril, sehingga membantu keefektifan perawatannya,” urai Rindy.
Ia juga menyampaikan, bahwa program iradiasi yang dilakukan BATAN sudah memiliki izin dari BPOM dan SNI, serta diawasi oleh IAEA.
“Untuk hilirisasi kita sudah proven. Jadi, masyarakat bisa menggunakannya tanpa ragu, karena sudah legal, aturannya jelas. Yukiya Amano (ketua IAEA) juga menyatakan, bahwa makanan iradiasi adalah salah satu makanan yang cocok terkait kejadian bencana,” paparnya.
Alasan makanan iradiasi ini cocok, menurut Rindy, karena baik korban bencana maupun petugas evakuasi bencana membutuhkan makanan bergizi siap saji dan tidak berat saat dibawa.
Rindy menyebutkan, kendala yang masih dihadapi saat ini adalah terkait pengguna logo di kemasan.
“Kalau permintaan dari pasar, sudah banyak. Hanya yang kemarin diberatkan oleh user adalah masalah pencetakan logo. Bukan hanya pengawetan dengan iradiasi, tapi juga untuk pengawetan dengan teknik lainnya. Karena ini akan menjadi cost tambahan,” ujarnya.
Kebutuhan iradiasi pangan saat ini masih bisa dipenuhi oleh iradiator yang ada. Tapi untuk ke depan dibutuhkan lebih banyak iradiator.
“Kalau sekarang baru ada dua yang komersial. Di Serpong yang milik BATAN dan satu lagi milik swasta di daerah Bekasi. Untuk mendukung Indonesia masuk ke pasar global, ya butuh pembangunan iradiator lagi di seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Rindy.