Peringatan Dini Tsunami Berakhir, Warga Lampung Kembali ke Rumah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akhirnya menyatakan peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa bermagnitudo 7.4 SR, tanggal: 02-Aug-19 19:03:25 WIB,  telah berakhir. Berakhirnya peringatan dini tsunami tersebut disampaikan melalui Indonesia Tsunami Warning System (InaTEWS).

Berakhirnya peringatan dini tsunami yang disiarkan oleh kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers melalui stasiun televisi dan kanal resmi BMKG yang terverifikasi. Berakhirnya peringatan dini tsunami tersebut, membuat warga mulai kembali ke rumah masing masing.

Eko Prapto, salah satu warga di Dusun Penobakan, pantai Tanjung Tuha Pasir Putih mengaku sempat merasakan gempa. Namun usai diakhiri peringatan dini tsunami ia justru melakukan penjagaan di pantai sementara sebagian masyarakat tetap waspada. Sejumlah warga yang tinggal di pesisir pantai bahkan mulai memutuskan kembali ke tempat masing masing.

Eko Prapto (kanan) berjaga di pantai Tanjung Tuha Pasir Putih usai peringatan dini tsunami dicabut, Jumat (2/8/2019) – Foto: Henk Widi

“Sempat panik namun setelah informasi resmi dari BMKG berakhir, kami  mulai tenang meski harus tetap waspada, sembari berjaga saya tetap berjaga di pantai Tanjung Tuha Pasir Putih,” terang Eko Prapto saat dihubungi Cendana News, Jumat (2/8/2019) malam.

Eko Prapto menyebut wilayah pesisir Bakauheni diakuinya sempat ikut terimbas tsunami pada 22 Desember 2019 silam. Meski demikian tidak separah di wilayah pesisir Rajabasa Lamsel.

Sebagai pengelola objek wisata bahari, ia sempat khawatir jika tsunami kembali melanda wilayah tersebut. Namun sebagian warga sudah mulai berjaga dan mendapat pelatihan tentang cara menyelamatkan diri saat tsunami.

Selain Eko Prapto, salah satu warga di wilayah pesisir Desa Waymuli memilih naik ke tempat yang tinggi. Hasan, saat dihubungi mengaku memilih naik ke lokasi lebih tinggi tepatnya di hunian sementara (Huntara) penyintas tsunami 22 Desember 2018 silam.

Ratusan warga yang masih trauma bahkan memilih tetap berada di luar rumah meski peringatan dini tsunami telah berakhir.

“Warga yang tinggal di pesisir sempat panik sebagian memantau dari televisi informasi kapan dicabut peringatan dini tsunami,” ungkap Hasan.

Hasan dan sejumlah warga di sepanjang pesisir Rajabasa sebagian memilih menginap di rumah kerabat. Sejumlah warga yang tinggal di bibir pantai sejauh 20 meter bahkan sebagian diungsikan terutama anak-anak dan kaum wanita.

Gempa bumi di wilayah Pandeglang yang terjadi malam hari membuat warga masih trauma. Meski demikian sebagian warga memilih melakukan ronda malam untuk berjaga di sekitar rumah tempat tinggal, sebagian menumpang di huntara.

Lihat juga...