Kunci Penyembelihan Hewan, Teknik Mengasah Pisau Perlu Disosialisasikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Menjelang perayaan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, masyarakat diharapkan dapat mengetahui teknik atau cara mengasah pisau secara benar. Hal itu diharapkan akan dapat mempercepat proses penyembelihan hewan kurban.

Terlebih, selama ini kendala dalam penyembelihan hewan kurban terletak pada kurang tajamnya pisau yang digunakan untuk menyembelih. Sehingga mengakibatkan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban menjadi berjalan lebih lama dari waktu yang semestinya.

Purjaka, Sekretaris Juru Sembelih Halal Indonesia (Juleha) DIY, memaparkan pentingnya penyembelihan hewan kurban secara benar, Selasa (6/8/2019) – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Yang paling utama menentukan lancar atau tidaknya proses penyembelihan adalah pisau. Berdasarkan penelitian, 60 persen kunci penyembelihan ada di pisau. Sementara 20 persen merupakan skill dan 20 persen adalah teknik atau cara menyembelih yang benar,” ujar Purjaka, Juru Sembelih Halal Indonesia (Juleha) DIY, Selasa (6/8/2019).

Karena itu menurut Jaka penting dilakukan upaya edukasi pada masyarakat khususnya para takmir masjid, terkait cara-cara atau teknik mengasah pisau secara benar untuk mendapatkan ketajaman yang sesuai standar.

“Mungkin banyak masyarakat yang berani dan bisa menyembelih, tapi masalahnya pisau yang digunakan tidak standar. Ini bukan soal pisau lokal atau impor, tapi cara mengasahnya yang mungkin masih belum sesuai dari standar ketajaman,” katanya saat memberikan pelatihan mengasah pisau di kecamatan Prambanan.

Dijelaskan, proses pengasahan pisau sendiri sebenarnya dapat dilakukan dengan dua cara. Yakni cara tradisional dengan memanfaatkan batu. Dan dengan teknologi terbaru menggunakan Honing.

Pemanfaatan batu untuk mengasah sendiri biasanya dilakukan untuk membentuk sudut mata pisau. Sementara pemanfaatan Honing lebih pada mempertajam pisau secara singkat atau dalam waktu yang cepat.

“Kita juga harus tahu sudut kemiringan mata pisau itu berbeda-beda. Misalnya untuk pisau menyembelih, itu maksimal 30 derajat. Beda dengan pisau untuk memotong tulang, sudutnya harus lebih lebar. Agar tidak mudah tumpul,” katanya.

Salah seorang peserta, Priyono, asal Kalasan, Sleman, mengaku antusias mengikuti pelatihan ini karena dirinya merupakan salah seorang panitia penyembelihan hewan kurban. Dengan ikut pelatihan ini ia berharap dapat mengetahui cara atau teknik mengasah pisau secara benar untuk bisa diterapkan saat hari raya idul Adha nanti.

“Ya bagus sekali. Karena sangat jarang ada pelatihan semacam ini. Padahal ini sangat penting. Dengan ikut pelatihan ini saya jadi tahu ternyata mengasah pisau ada caranya, tidak asal,” ungkapnya.

Lihat juga...