Kemarau, Petani di Lampung Selatan Terapkan Pola Pembagian Air

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Petani di Lampung Selatan mulai menerapkan pola pembagian air. Hal tersebut dilakukan, untuk lahan pertanian yang sebagian sudah memasuki masa pemupukan.

Pasokan air yang terbatas selama kemarau, diatasi dengan cara tersebut. Pengairan dilakukan, agar penyerapan pupuk ke tanaman lebih maksimal. Rendi, petani padi di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menyebut, di Agustus mulai melakukan pemupukan tahap pertama. Sehingga air saat ini menjadi kebutuhan yang sangat penting.

Rendi, salah satu petani menyiapkan pupuk SP-36, Urea dan Phonska untuk pemupukan lahan padi miliknya Kamis (1/8/2019) – Foto Henk Widi

Pembagian air dilakukan secara bertahap. Saluran irigasi dialirkan pada petak sawah sebelum proses pemupukan. “Petani pengguna air, akan mengatur jadwal penggunaan air sejak pengolahan, penanaman, pemupukan agar bisa dimanfaatkan selama masa tanam gadu,” ungkap Rendi kepada Cendana News, Kamis (1/8/2019).

Penggunaan air hanya akan berlangsung maksimal tiga hari. Usai tiga hari, air tidak dimanfaatkan dan akan dialirkan ke lahan milik petani lain yang membutuhkan. Sistem tersebut menjadi kearifan lokal, agar tetap bisa menggarap sawah saat musim gadu.

Sumani, petani padi di Desa Pasuruan menyebut, sejumlah anggota Kelompok Tani (Poktan) akan saling memberi kesempatan menggunakan air. Petani sudah memilih padi varietas tahan kemarau. Sehingga, penggunaan air bisa dilakukan secara bergantian. “Varietas padi tahan kemarau membuat petani hanya butuh air saat pengolahan, pemupukan dan jelang masa berbulir,” tutur Sumani.

Satu Poktan pengguna air minimal beranggotakan 10 petani. Pada satu hamparan pasokan air saat kemarau dibagi secara merata. Pembagian air sesuai kebutuhan, karena pasokan air terbatas. Meski kemarau dan pasokan air terbatas, Sumani memastikan pasokan pupuk justru melimpah. Pasalnya dari Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), satu kelompok mendapatkan jatah pupuk 10 ton.

Kebutuhan pupuk tersebut digunakan untuk dua kali pemupukan, sesuai dengan luas lahan sawah. Faktor kemarau, menjadikan sebagian petani tidak menggarap sawah. Hal itu membuat stok pupuk menjadi berlebih.

Lihat juga...