Dongkrak Kualitas SDM di Bondowoso dengan Pendidikan Tinggi
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
BONDOWOSO – Masih rendahnya angka partisipasi pendidikan menjadi salah satu tantangan pembangunan di Bondowoso.
Angka terendah terutama di jenjang pendidikan tinggi yang juga terkait dengan tingkat kualitas pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI).
Masalah tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan tujuh pimpinan kampus swasta di Bondowoso. Mereka sepakat membentuk Forum Komunikasi PTS Bondowoso (FK-PTS Bondowoso) pada Kamis (1/8) sore.
“Kita sepakat membentuk forum ini agar ada kontribusi lebih nyata dari kalangan akademisi di Bondowoso terhadap pembangunan di wilayahnya. Pendidikan punya peran strategis dalam mengakselerasi hal tersebut,” ujar Akhmadi, Ketua FK-PTS Bondowoso, Kamis (1/8/2019).
Tujuh kampus yang membentuk forum tersebut yakni STAI At-Taqwa, Universitas Bondowoso, STIS Darul Falah, STIS Togo Ambarsari, STIS Abu Zairi, STIT Al Islah, dan STIS Al Usmani.
“Kami akan menghadap Bupati Bondowoso untuk memaparkan draf usulan pembangunan yang kini tengah disusun kalangan akademisi Bondowoso. Kita terdiri dari berbagai disiplin keilmuan, yang masing-masing bisa berkontribusi memberikan gagasan akademis sesuai latar belakang keilmuan, dalam perencanaan pembangunan di Bondowoso,” ujar Akhmadi yang juga Ketua STAI At-Taqwa.
Selain draf usulan akademis, mereka juga berharap agar Pemkab Bondowoso bisa menggenjot jumlah putra daerah Bondowoso yang berkuliah di daerahnya sendiri.
Salah satu caranya dengan memberikan beasiswa bagi anak muda Bondowoso yang berkuliah di Bondowoso. Langkah ini dinilai sudah banyak dilakukan dan efektif menggenjot pembangunan yang ada di berbagai kota di Indonesia.
“Seperti di Jember dan beberapa daerah lain, di mana pemkab atau pemkotnya memberikan beasiswa kepada putra daerah untuk berkuliah di daerahnya sendiri. Karena pendidikan kan punya efek yang simultan, semacam investasi pembangunan jangka panjang,” ujar alumnus Ponpes Ash-Shidiq Putra Jember ini.
Kebijakan pemberian beasiswa kuliah ini juga untuk memutus sumbatan atau bottle neck dalam mengejar pemerataan akses pendidikan.
“Selama ini minat masyarakat untuk tidak melanjutkan pendidikan adalah karena mereka lebih ingin anaknya cepat bekerja ketimbang bersekolah. Selain itu, banyaknya pengangguran terdidik lantas menimbulkan persepsi yang tidak tepat terkait urgensi melanjutkan pendidikan,” tutur Akhmadi.
Kabar terbaru, Bondowoso telah berhasil keluar dari status daerah tertinggal. Upaya ini melalui kerja keras selama lebih dari 12 tahun terakhir.
“Menjadi tanggung jawab kalangan akademisi untuk ikut membantu pengawalan agar Bondowoso menjadi lebih melesat. Seperti penataan dan penempatan SDM sesuai keahliannya,” tambah Wakil Ketua Forum yang juga Wakil Ketua 1 STAI At-Taqwa, Bachtiar Rifai.