Sampah Batuan di Bibir Pantai Balikpapan adalah Batu Bara

Editor: Mahadeva

BALIKPAPAN – Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan teliti keberadaan sampah batuan hitam, yang hanyut terbawa arus laut di sepanjang perairan Balikpapan.

Sampah tersebut ditemui di Klandasan Ilir dan Pasar Baru. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membenarkan, sampah batuan hitam tersebut adalah batu bara. Namun, belum diketahui dari mana asal bongkahan batu bara tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan Suryanto, saat memaparkan kondisi Pantai Balikpapan, di ruang kerjanya, Senin (222/7/2019) – Foto Ferry Cahyanti

Kepala DLH Kota Balikpapan, Suryanto, menyebut, pada penelitian yang dilakukan Minggu (21/7/2019) lalu, pihaknya melibatkan Sucofindo. “Kita kumpulkan bongkahannya, dan kita minta Sucofindo teliti. Kemudian hasilnya benar batu bara,” ucapnya, Senin (22/7/2019).

Batu bara yang terdapat di sepanjang pantai di Kota Balikpapan tersebut terbagi menjadi dua bagian. Terdapat batu bara yang lama, hal itu bisa terlihat dari keberadaan hewan laut di dalam batu bara yang ditemukan. Namun, juga ditemukan batu bara baru. Hal tersebut terlihat dari bentuknya yang masih berujung tajam-tajam. “Memang saya bukan ahli dibidang ini, tapi kita bisa pelajari dari hasilnya ini terdapat dua jenis. Yaitu batu bara lama dan batu bara baru,” terangnya.

Terkait dengan dari mana asal sampah batuan tersebut, ditegasknnya, bukan berasal dari Kota Balikpapan. “Yang pasti bukan dari sini (Balikpapan) lah,” tegasnya.

Suryanto mengatakan, setelah penelitian selesai dilakukan dan diperoleh hasilnya, DLH akan segera melaporkan ke Wali Kota Balikpapan. Hal tersebut akan ditindaklanjuti dengan pembuatan surat yang ditujukan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Harapannya, pemprov bisa menegur perusahaan tambang yang ada di Kaltim. Harapannya, agar para penambang bisa mengelola batu bara yang diangkut oleh tongkang, agar tidak terjatuh ke laut. Suryanto menambahkan saat ini temuan batu bara tersebut masih dikategorikan aman karena masih tercecer.

Namun jika telah berkelompok dan dapat merubah warna air laut, maka bisa sangat membahayakan ekosistem laut dan juga masyarakat yang beraktifitas di daerah tersebut. “Saat ini masih normal. Tapi kalau sudah ditemukan berkelompok atau banyak dan merubah warna air, ini yang bahaya,” tandasnya.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, membenarkan keberadaan sampah yang ditemukan masih diteliti oleh Dinas Lingkungan Hidup. “Hingga kini masih diteliti, kita tunggu saja hasilnya,” tandasnya.

Lihat juga...