Rabies Ancam Tiga Kabupaten di Pulau Flores
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Ancaman penyakit Rabies yang ditularkan Hewan Penular Rabies (HPR) khususnya anjing semakin meluas. Setelah kabupaten Sikka, kasus serupa juga ditemukan di kabupaten Ngada dan Manggarai di wilayah barat pulau Flores.
“Penyakit rabies sudah menyebar di kabupaten Ngada dan Manggarai. Ini sebuah keprihatinan dan harus segera diatasi agar tidak menyebar ke kabupaten lainnya di pulau Flores,” tegas dr. Asep Purnama, Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata, Sabtu (13/7/2019).
Dikatakan Asep, di kabupaten Sikka ditemukan sedikitnya 22 kasus positif hingga pertengahan Juli. Sementara itu di kabupaten Ngada dan Manggarai juga ditemukan masing-masing dua kasus.
“Dua kasus gigitan positif di Ngada berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Vertenier di Denpasar 12 Juli 2019. Kedua desa tersebut yakni Ubedolu Molo, kecamatan Bajawa dan desa Beapawe kecamatan Golewa Barat ,” terangnya.
Di desa Ubedolu Molo terang Asep, anjing berusia tiga bulang menggigit seorang warga. Sementara di desa Beapawe, seekor anjing berusia tiga bulan hampir mengigit petugas kesehatan yang akan melakukan vaksin anti rabies.
“Di kabupaten Manggarai, hasil pemeriksaan laboratorium veteriner tanggal 10 Juli 2019 ditemukan dua kasus gigitan positif rabies. Satu kasus di kelurahan Karot, kecamatan Langke Rembong dan satu lainnya di desa Benteng Poco kecamatan Wae Ri’i,” ungkapnya.
Seekor anjing berumur sekitar delapan bulan terang Asep, menggigit seorang warga tanpa dilakukan provokasi. Sementara di desa Benteng Poco, seekor anjing mengganas dan menggigit dua warga di desa tersebut.
“Dengan adanya kejadian ini maka semua wilayah kabupaten harus meningkatkan kewaspadaan. Selain itu harus dilakukan gerakan bersama vaksinasi anjing selaku hewan penular rabies untuk memberantas penyakit ini,” tegasnya.
Patrisius Lura salah seorang warga kabupaten Sikka mengaku kuatir dengan adanya penyebaran virus rabies pada anjing yang mulai meluas. Saat ini saja sebutnya sudah terdapat di 9 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada di kabupaten Sikka.
“Pemerintah harus segera melakukan aksi nyata vaksinasi terhadap semua anjing yang ada. Pihak desa dan kecamatan bila perlu melibatkan pihak kepolisian dan TNI dalam melakukan pengawasan saat vaksinasi,’ harapnya.
Selama ini tambah Patris, sapaannya, masyarakat tidak mau kalau anjing peliharaannya dilakukan vaksinasi.
“Kalau masih ada anjing yang belum divaksin maka pasti akan menularkan kepada anjing lainnya. Harus diambil tindakan tegas bagi pemiliknya yang tidak mau anjing peliharaannya dilakukan vaksinasi,” tegasnya.