Musim Angin, Nelayan Sikka Minim Penghasilan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Angin kencang yang melanda kabupaten Sikka sejak awal Juni 2019 membuat hasil tangkapan menurun drastis. Nelayan lampara pun hanya melaut kalau bulan mulai gelap dan melepas pukat di sekitar rumpon yang ada di kawasan Teluk Maumere.

H. Burhan nelayan kampung Wuring kelurahan Wolomarang Maumere yang memiliki lampara.Foto : Ebed de Rosary

“Kalau musim sekarang untuk simpan saja tidak ada uang. Paling hanya cukup untuk makan saja, sebab harus bayar ABK paling minim 7 sampai 10 orang,” sebut Burhan, nelayan Wuring kelurahan Wolomarang kecamatan Alok Barat, Senin (10/6/2019).

Dikatakan Burhan, belum lagi hasil tangkapan ikan dibagi dengan pemilik rumpon sekitar 35 persen. Saat musim angin dalam sebulan rata-rata penghasilannya Rp2 juta sampai Rp3 juta saja.

“Kami melaut tergantung bulan terang hanya pukul 01.00 WITA sampai 03.00 WITA. Tergantung dengan munculnya bulan, kalau bulan gelap bisa hingga pukul 07.00 WITA,” sebutnya.

Saat Juni sampai November pendapatan nelayan lampara dan bagan tidak menentu. Yang penting selalu melaut meskipun pendapatan kadang juga tidak balik modal. Sekali melaut butuh biaya rata-rata Rp300 ribu sampai Rp400 ribu untuk biaya bahan bakar dan bayar anak buah kapal.

“Musim panen bulan Desember sampai April atau Mei dimana ikan-ikan sudah merapat ke teluk Maumere. Di bulan ini sekali melaut bisa memperoleh penghasilan Rp3 juta sampai Rp4 juta,” terangnya.

Hasil tangkapan kata Burhan biasanya layang, selar dan anak tongkol. Ikan dijual per kantung plastik ukuran 12 kilogram di TPI Alok. Saat musim ikan harga jualnya murah bisa Rp40 ribu sekantung tapi kalau musim sulit, bisa laku Rp300 ribu sampai Rp400 ribu sekantungnya.

“Perusahaan juga tidak menampung ikan layang ukuran kecil dan tongkol kecil hasil tangkapan kami. Saat musim ikan, kami kesulitan menjual hasil tangkapan karena tidak ada pabrik yang tampung,” sesalnya.

H. Halim pemilik lampara di Wuring mengaku nelayan lampara di Sikka rata-rata tidak memiliki simpanan uang di bank selain cicilan untuk membayar ongkos naik haji. Kalau simpanan untuk biaya kuliah atau membangun rumah hampir tidak ada pemilik kapal yang menyimpannya.

“Selama musim ikan bulan Desember sampai April rata-rata memiliki penghasilan bersih minimal Rp20 juta. Tapiuang tersebut pun terkadang habis untuk bayar utang selama musim panceklik tidak melaut,” terangnya.

Perairan di Teluk maumere kata Halim, merupakan laut dangkal dengan kedalaman 35 sampai 50 meter. Melepaskan pukat juga harus berhati-hati karena selain dangkal, juga banyak karang. Bila tidak berhati-hati pukatnya tersangkut di karang dan bisa gulung tikar.

“Paling banyak lampara di Wuring sekitar 5 saja yang berhasil sebab mereka menangkap ikan di laut dalam. Tentunya modal yang dimiliki pun besar sebab harus membeli bahan bakar dan bayar tenaga kerja,” terangnya.

Lihat juga...