Mudik, Beri Berkah Porter di Pelabuhan Bakauheni

LAMPUNG – Peningkatan arus mudik dari pelabuhan Merak menuju pelabuhan Bakauheni, terus terjadi hingga Minggu (2/6/2019). Puluhan kapal roll on roll off (Roro), yang berasal dari pulau Jawa sejak pagi hingga siang terus mengalir mengangkut pemudik.

Peningkatan jumlah pemudik yang pulang dari Jawa ke Sumatera tersebut, menjadi berkah bagi penyedia jasa angkut barang atau dikenal dengan porter pelabuhan. Sudirman, salah satu porter mengaku, memperoleh hasil berlipat dibanding hari biasa. Sejak bekerja di H-7 lebaran, Dia mengaku mendapatkan peningkatan penggunaan jasa. Di hari biasa biasa hanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Saat liburan, memperoleh Rp500 ribu.

Di libur Idul Fitri tahun ini Sudirman mengaku bisa mendapatkan hasil Rp1 juta perhari. Jumlah yang menjanjikan tersebut, merupakan akumulasi kerja dari pagi hari hingga malam hari. Jasa porter saat angkutan lebaran jadi pilihan pemudik yang akan pulang kampung dengan barang bawaan cukup banyak.

“Pemudik kerap membawa barang bawaan yang banyak sehingga kami tawarkan untuk memakai jasa porter mulai dari dalam kapal hingga ke terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni menunggu bus dan travel,” terang Sudirman, kepada Cendana News, Minggu (2/6/2019).

Perolehan hasil lebih banyak dibandingkan hari biasa diakuinya butuh perjuangan. Saat mudik lebaran, jasa porter tidak diberi batasan waktu untuk bekerja. Pada hari biasa, porter yang beroperasi di pelabuhan Bakauheni berjumlah 70 orang.

Jasa porter atau dikenal dengan baju merah tersebut bahkan memiliki tugas berdasarkan shift pagi hingga sore dan sore hingga malam. Saat angkutan lebaran, jasa porter sepakat tidak memberlakukan sistem shift. Seluruh porter bekerja dengan pertimbangan kekuatan fisik bisa bekerja sejak pagi hingga malam.

Sudirman mengaku memilih bekerja lebih keras, untuk memperoleh hasil maksimal memenuhi kebutuhan Idul Fitri. “Kunci utama bisa bekerja maksikal dengan menjaga stamina dan kesehatan fisik karena jasa porter mengandalkan kekuatan fisik,” tandas Sudirman.

Selain kekuatan fisik, porter harus mengesampingkan faktor keselamatan, dengan rela melompat dari gangway ke pintu kapal. Meski melompat di kapal merupakan kegiatan berbahaya, ia menyebut, cara tersebut dilakukan untuk mendapatkan pengguna jasa.

Melompat ke atas kapal menjadi kesempatan untuk mendapatkan pemudik yang membawa barang. Meski demikian, terkadang pemudik memilih tidak memakai jasa porter. “Kesepakatan jasa angkut kerap menyesuaikan jarak karena dari dermaga 1,2 dan 3 ke terminal jaraknya berbeda,” beber Sudirman.

Pada angkutan mudik lebaran,menyesuaikan jumlah barang yang dibawa, tarif ditetapkan mulai Rp35.000 hingga Rp50.000. Sebagian pemudik yang membawa barang dalam jumlah banyak, kerap mendapatkan tambahan jasa angkut. Sehari Sudirman, bisa menawarkan jasa angkut kepada 30 hingga 50 pemudik.

Anggi, salah satu pengguna jasa porter, mengaku terbantu jasa angkut tersebut. Saat membawa barang yang banyak, Dia bisa lebih ringan saat berjalan dari gangway menuju ke terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni.

Lihat juga...