SAMARINDA — Lapangan usaha pertambangan yang masuk dalam sektor primer untuk investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan pertama 2019, memberikan andil terbesar menarik investasi hingga mencapai 70,35 persen.
“Nilai investasi dari PMDN yang masuk ke Provinsi Kaltim pada triwulan I 2019 total mencapai Rp7,16 triliun,” ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kaltim Abdullah Sani di Samarinda, Selasa (18/6/2019).
Dari jumlah itu, lapangan usaha subsektor pertambangan mampu menarik minat investor untuk menanamkan modalnya paling besar yang mencapai Rp5,04 triliun, atau kontribusinya mencapai 70,35 persen dari total investasi PMDN yang masuk ke Kaltim.
Jumlah kegiatan dalam subsektor pertambangan dengan nilai sebesar itu mencapai 58 proyek, sementara tenaga kerja yang terlibat dalam usaha ini sebanyak 2.414 orang, yang terdiri atas 2.409 Tenaga Kerja Idonesia (TKI) dan lima Tenaga Kerja Asing (TKA).
Sementara itu subsektor tanaman pangan dan perkebunan berada di urutan kedua terbanyak, yakni senilai Rp785,61 miliar atau memberikan andil 10,97 persen dari total investasi PMDN yang masuk ke Kaltim.
Jumlah kegiatan dari lapangan usaha tanaman pangan dan perkebunan sebanyak 42 proyek. Sementara jumlah pekerja yang terserap hanya 94 TKI.
Berada di posisi ketiga adalah subsektor usaha listrik, gas, dan air senilai Rp601,95 miliar dengan sembilan proyek yang berjalan. Kegiatan ini berhasil menyerap sebanyak 590 pekerja yang terdiri atas 527 TKI dan 63 TKA.
Abdul Sani menjelaskan investasi PMDN tersebut terbagi tiga sektor yakni sektor primer, sekunder, dan sektor tersier.
Pada sektor primer kegiatan usahanya meliputi subsektor tanaman pangan dan perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, dan pertambangan.
Sektor sekunder yang merupakan kegiatan industri antara lain bergerak di bidang industri makanan, tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, kayu, kertas dan percetakan, kimia dasar dan barang kimia serta farmasi, karet dan barang dari karet atau plastik, dan industri mineral nonlogam.
“Sedangkan sektor tersier antara lain lapangan usaha listrik, gas dan air, konstruksi, perdagangan dan reparasi, hotel dan restoran, transportasi, gudang dan komunikasi, perumahan, kawasan industri dan perkantoran,” katanya. [Ant]