Siswa SMPN 3 Waigete Ujian di Tenda Darurat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sejak dihantam angin puting beliung tanggal 16 sampai 19 Maret 2019 lalu yang menyebabkan dua ruang kelas dan sebuah ruang guru di SMPN 3 Waigete rubuh diterpa angin kencang, hingga kini belum ada perbaikan. Pemerintah kabupaten Sikka pun belum mengucurkan dana tanggap darurat untuk perbaikan.

“Untuk sementara, dua kelas terpaksa melaksanakan ujian akhir semester di tenda darurat. Tenda ini dibangun oleh Kodim 1603 Sikka dan rencananya akan dibangun dua tenda tapi baru satu tenda saja yang dibangun,” sebut guru SMPN 3 Waigete, Fransisuskus Sareng, Senin (20/5/2019).

Dikatakan Fransiskus, dua kelas lainnya tetap menggunakan dua ruang kelas darurat yang sejak awal dibangun dari dana swadaya orang tua murid. Dua ruang kelas tersebut pun masih berlantai tanah dan berdinding bambu belah meskipun beratap seng.

“Kalau tidak ada tenda tentu kami juga kesulitan. Kalau pelajaran sehari-hari 4 ruang kelas digabung. Kelas 7 dan kelas 8 masing-masing menempati satu ruang kelas yang luput dari terjangan angin kencang,” tuturnya.

Aleksius Susar,  kepala sekolah SMPN 3 Waigete kepada Cendana News di lokasi sekolah menyebutkan, akibat ruang kelas rubuh dihantam angin kencang maka pihaknya mendapatkan bantuan tenda darurat. Pemasangan tenda darurat dilakukan tanggal 3 Mei 2019 lalu dan baru digunakan untuk ujian.

“Setelah kunjungi lokasi, Dandim 1603 Sikka memerintahkan agar dibangun tenda supaya bisa dipergunakan untuk para siswa melaksanakan ujian. Rencananya akan dibangun dua tenda tetapi bangunan darurat beratap ilalang belum dibongkar sehingga hanya satu tenda dahulu,” terangnya.

Fasilitas sekolah yang kurang tambah Aleksius, selain ruang kelas, kursi dan meja, alat tulis dan buku pelajaran. Ketiadaan meja membuat para siswa harus mengikuti ujian dengan duduk di kursi plastik yang ada.

“Untuk menulis terpaksa menggunakan paha sebagai alasnya. Papan komputer yang ada kami perguanakan untuk menyekat dan membagi lokasi tenda tersebut menjadi dua ruang kelas,” ungkapnya.

Waktu ujian kata Aleksius akan berlangsung selama 5 hari. Dalam sehari ada dua mata pelajaran yang diujikan dimana satu mata pelajaran durasi waktunya hingga dua jam termasuk istirahat setengah jam sebelum ujian mata pelajaran kedua.

Maria Selvita Yuniati, siswa kelas 8B mengaku, sudah terbiasa menulis tanpa meja karena meja tulis di sekolahnya terbatas. Meski ujian berlangsung di bawah tenda namun para siswa sudah terbiasa menempati ruang kelas darurat.

Maria Selvita Yuniati siswa kelas 8B SMPN 3 Waigete kabupaten Sikka bersama teman-teman sekolahnya usai menjalankan ujian kenaikan kelas. Foto: Ebed de Rosary

“Setelah sekolah kami rubuh kami harus belajar bersama dalam satu ruangan sebanyak 40 orang. Tempatnya pun sempit sehingga kami duduk berdesakan dan satu meja bisa dipakai oleh 4 orang siswa,” tuturnya.

Meski keadaan sekolahnya sangat tidak layak, Maria mengaku senang bisa bersekolah di tempat ini. Warga dusun Kalhir ini mengaku jarak rumah dengan sekolahnya tidak terlalu jauh sehingga dirinya memilih untuk bersekolah di tempat ini.

“Setiap pagi saya berangkat dari rumah jam 06.30 WITA dengan berjalan kaki bersama teman-teman lainnya. Masuk sekolah jam 07.15 WITA setiap harinya. Saya ingin menjadi bidan sehingga nanti akan terus bersekolah agar cita-cita saya bisa tercapai,” ucapnya.

Lihat juga...