Musik Tradisional Sanggar Mutu Lo’o Semakin Diminati
Editor: Satmoko Budi Santoso
ENDE – Sanggar Mutu Lo’o merupakan sanggar musik tradisional dari desa Waturaka, kecamatan Kelimutu, kabupaten Ende. Sanggar musik ini selalu tampil dengan mengenakan sarung tenun dan ikat kepala dari kain tenun motif Lio.
“Sekarang sanggar musik kami sudah mulai ramai diminta orang untuk pentas. Biasanya kami pentas seminggu dua kali di Eco Lodge, di desa Moni Kelimutu, di hadapan wisatawan asing,” sebut Robertus Dala, anggota sanggar, Minggu (5/5/2019).

Dikatakan Robert, sapaannya, anggota sanggar terdiri dari orang tua dan anak muda. Alat musik yang dipergunakan yakni Sato, yang dibuat dari buah maja dan hanya ada di desa Waturaka saja.
“Yang membuat sanggar kami menarik karena alat musik Sato yang kami mainkan tidak ada di daerah lain. Selain Sato, alat musik yang digunakan yakni suling, juk, ukulele, gambus,” sebutnya.
Sekali pentas dalam waktu satu jam, kata Robert, pihaknya mematok tarif Rp1 juta bila pemain musik yang terlibat berjumlah 10 orang. Masing-masing orang dibayar Rp100 ribu.
“Kalau pentas untuk ditonton satu dua orang saja kami hanya libatkan 3 sampai 5 pemain musik. Tapi kami akan tanya terlebih dahulu dengan orang yang meminta kami pentas. Kalau hanya satu dua orang yang menonton, maka kami akan mainkan beberapa lagu saja dalam bahasa Lio sebab pemain musiknya juga terbatas. Kami tidak ingin biaya yang dikeluarkan membebani penonton,” tuturnya.
Sebelum pentas, lanjutnya, pihaknya akan menanyakan terlebih dahulu kepada tamu yang meminta pentas soal kesanggupannya. Kalau dia mempunyai uang terbatas maka pemain musik dikurangi tapi tetap sama membawakan lagunya.
Blasius Leta, salah satu pendiri sanggar ini mengaku bangga dengan mulai dikenalnya sanggar musik tradisonal ini. Setelah dipromosikan oleh LSM Swiss Contact dan diminta tampil pentas dimana-mana nama desa Waturaka pun kian dikenal.
“Saya bersyukur selain sanggar Mutu Lo’o, anak-anak muda di desa kami juga telah membuat sanggar sendiri. Saat ada tamu yang meminta membawakan tarian, mereka pun siap tampil,” sebutnya.
Sius yang juga penggerak masyarakat di desa Waturaka menyebutkan, selain pentas di sekitar kecamatan Kelimutu, pihaknya pun pernah tampil dua kali di Mataram NTB, serta di beberapa kabupaten tetangga di Flores.
“Memainkan musik selain untuk melestarikan adat dan budaya leluhur, juga bisa mendapatlan uang. Tapi pekerjaan kami tetap sebagai petani. Karena itu yang mendatangkan uang lebih baik dan menghidupkan kami,” tuturnya.