Membangun Kesadaran Peduli Kanker Kulit

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kanker kulit mungkin tidak setenar saudaranya, kanker payudara dan kanker serviks. Tapi, kanker kulit pun bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Apalagi, gejala kanker kulit termasuk gejala yang sering dianggap enteng oleh penderitanya.

Menurut data di Indonesia, kanker kulit nonmelanoma menduduki tempat ke 15 dan kanker kulit melanoma menduduki rangking ke 24.

DR. Dr. Aida SD Hoemardani, SpKK(K) menjelaskan, yang dimaksud dengan kanker kulit adalah kelainan pada sel kulit yang disebabkan oleh perubahan sel.

Kanker kulit biasanya terjadi pada kulit yang sering terpapar sinar matahari. Walaupun tidak menutup kemungkinan kulit yang tidak terpapar secara langsung juga dapat terkena kanker kulit.

“Berdasarkan jenis sel yang diserang, kanker kulit dibagi menjadi 2 jenis, melanoma yang terjadi pada bagian melanosit atau sel penghasil pinjem kulit dan nonmelanoma yang terjadi di jaringan kulit selain melanosit,” kata Dr. Aida saat acara Awareness Kanker Kulit di Yayasan Kanker Indonesia Jakarta, Sabtu (4/5/2019).

Kanker nonmelanoma dibagi menjadi dua, Karsinoma Sel Basal (KSB) dan Karsinoma Sel Skuamosa (SKS).

“KSB lebih umum terjadi dibandingkan KSS. Dan KSB dan KSS lebih sering terjadi dibandingkan melanoma,” ucap Dr. Aida.

Kanker kulit umumnya terjadi pada daerah badan yang terbuka, seperti pada kepala, wajah, bibir, telinga, leher, dada, lengan dan tungkai.

“Tapi ada beberapa kasus yang menyerang daerah yang jarang terkena, seperti telapak tangan dan kaki, bagian bawah jari bahkan daerah genital,” ujar Dr. Aida lebih lanjut.

Setiap jenis kanker kulit memiliki gejala yang berbeda. KSB memiliki gejala benjolan lunak dan mengkilat pada kulit, lesi berbentuk datar dan memiliki warna coklat atau coklat kemerahan. Dan KSS memiliki gejala benjolan merah keras pada kulit, lesi berbentuk datar dan bersisik keras seperti kerak.

“Pada melanoma, benjolan yang terjadi berwarna coklat dengan bintik-bintik hitam pada benjolan. Tahi lalat yang mengalami perubahan warna dan ukuran atau yang mengeluarkan darah, juga termasuk gejala melanoma,” urai Dr. Aida.

Gejala lesi pada kulit yang berwarna merah, putih, biru dan biru kehitaman dengan tepi yang tidak beraturan juga merupakan gejala kanker kulit melanoma.

“Lesi berwarna gelap ini memungkinkan untuk muncul di telapak tangan, telapak kaki, ujung jari atau kaki, serta pada membran mukosa di dalam mulut, hidung, vagina atau anus,” papar Dr. Aida.

Dr. Aida menyebutkan bahwa tidak semua benjolan merupakan gejala kanker kulit, sehingga jika menemui gejala seperti tersebut penderita harus langsung menemui ahli medis untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

“Penyebab utama kanker kulit adalah paparan sinar ultraviolet. Dan menyerang kulit putih maupun berwarna. Walaupun memang, orang dengan kulit berwarna memiliki daya tahan yang lebih besar pada paparan sinar ultraviolet dibandingkan orang dengan kulit putih,” urainya lebih lanjut.

Selain sinar matahari, sumber sinar ultraviolet buatan seperti lampu UV dan tanning bed juga memiliki potensi untuk menimbulkan kanker kulit.

“Faktor lainnya yang juga bisa mempengaruhi potensi kanker kulit lainnya adalah faktor usia, riwayat kanker pada keluarga, pelemahan sistem imun, radiasi serta paparan bahan kimia arsen dan hidrokarbon aromatik polisiklik,” kata Dr. Aida di depan para peserta diskusi.

Untuk mengurangi potensi terkena kanker kulit, Dr. Aida menyebutkan ada dua tindakan pencegahan. Yaitu pencegahan primer dan sekunder.

“Untuk mencegah kita bisa berupaya untuk menggunakan baju yang tertutup, menggunakan tabir surya dan menggunakan topi setiap kali berkegiatan di lokasi yang terpapar matahari. Jangan lupa juga menggunakan alas kaki. Untuk pencegahan sekunder, kita melakukan SAKURI, yaitu Periksa Kulit Sendiri,” pungkas Dr. Aida.

Lihat juga...