Angka Putus Sekolah di Desa Roga, Ende Masih Tinggi

Editor: Makmun Hidayat

ENDE — Sulitnya akses pendidikan setingkat SMA di Kecamatan Ndona Timur membuat warga Desa Roga banyak yang putus sekolah. Padahal banyak masyarakat yang mampu, mengingat hasil kebun warga memiliki nilai jual tinggi seperti kopi, cengkeh, kakao dan bawang merah.

“Banyak masyarakat Desa Roga yang hanya berpendidikan setingkat SD dan SMP saja. Untuk SMA mereka harus pergi ke Kecamatan Wolojita sejauh puluhan kilometer,” sebut Kepala Desa Roga, Kecamatan Ndona Timur Kabupaten Ende, Stefanus Beda, SPd, Kamis (2/5/2019).

Kepala Desa Roga, Stefanus Beda, SPd. – Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Stefanus, dari 128 Kepala Keluarga (KK) di Desa Roga atau sekitar seribu jiwa, hanya belasan saja yang bergelar S1. Kalau dahulu bila ingin melanjutkan jenjang SMA harus ke kota Ende dan terpaksa harus tinggal di sana hingga tamat sekolah.

“Sudah enam tahun ini baru ada SMP di desa kami sehingga sudah banyak anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang tersebut. Kalau ke SMA berarti harus pindah tinggal di Kelurahan Wolojita atau langsung ke kota Ende,” tuturnya.

Ini yang membuat banyak anak-anak, kata Stefanus, malas pergi ke sekolah apalagi orangtua juga masa bodoh. Rata-rata setelah putus sekolah maka akan menetap di kampung dan bekerja sebagai petani.

“Ada juga yang merantau ke luar daerah dan bekerja sebagai tukang bangunan. Tapi sekarang ini paling banyak pergi merantau ke Kalimantan dan bekerja di perusahaan kelapa sawit,” ungkapnya.

Untuk SD warga tidak kesulitan, sebut Stefanus, sebab di desa sendiri pun sudah ada SD Katolik dan telah ada sejak lama.

Sebagai kepala desa dirinya pun selalu mengimbau agar warga menempuh pendidikan tinggi apalagi potensi pertanian di Desa Roga sangat menjanjikan sehingga biaya kuliah tidak terlalu sulit.

“Untuk kuliah di kota Ende saja ataukah di kota Kupang banyak orangtua yang mampu membiayai. Tetapi mungkin saja pengaruh dari lingkungan juga sangat besar sehingga hanya anak-anak tertentu saja yang melanjutkan hingga tamat kuliah,” ujarnya.

Stefanus pun mengakui, dirinya juga merupakan sarjana S1 dari Universitas Terbuka (UT) yang ada di kota Ende. Setelah kembali ke kampung halaman, dirinya pun dipilih menjadi kepala desa sehingga sementara berhenti mengajar di SDK Toba Desa Roga.

Markus Pao, warga Desa Roga, mengaku banyak anak muda yang malas bersekolah karena jarak sekolahnya sangat jauh dari desanya. Selain itu, anak-anak muda juga malas sekolah karena lebih memilih bekerja sebagai petani.

“Banyak anak muda yang malas melanjutkan sekolah setelah tamat SMP dan memilih untuk merantau dan bekerja di Kalimantan di perusahaan kelapa sawit atau di tambang. Ada juga yang bekerja di Ende sebagai kuli bangunan dan kembali ke kampung bila tidak ada pekerjaan lagi,” tuturnya.

Bila potensi pertanian di desa ini digarap secara lebih maksimal, sebut Markus, maka petani pasti akan lebih sejahtera. Dirinya berharap agar pemerintah membantu memberikan pelatihan dan menyiapkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang selalu datang ke Roga memberikan penyuluhan.

Lihat juga...