Warga Bantul Ubah Saluran Irigasi Jadi Wisata Tubing Cantik nan Mempesona

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Warga dusun Blawong Satu, Kelurahan Trimulyo, Jetis, Bantul, punya cara unik untuk menjaga kondisi lingkungan desa mereka. Saluran irigasi primer sungai Opak sepanjang 300 meter yang awalnya kotor dan menjadi tempat pembuangan sampah maupun limbah rumah tangga, mereka sulap menjadi spot tempat wisata yang cantik dan mempesona.

Ketua kelompok sadar wisata Dewa Batu, Trisnawan. Foto: Jatmika H Kusmargana

Dewa Batu Riverside Tubing, mereka menamainya. Mulai dirintis sejak Januari 2019 dan resmi dibuka Maret 2019 lalu, tempat wisata air ini, kini telah mulai ramai dikunjungi. Berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua datang ke tempat ini untuk menikmati wisata tubbing yang ada.

“Dulu tempat ini kotor dan kumuh. Bangak warga membuang sampah dan limbah rumah tangga ke situ. Sejumlah tokoh dusun lalu berkumpul untuk berupaya mengubah kebiasaan buruk warga itu,” ujar ketua kelompok sadar wisata Dewa Batu, Trisnawan.

Adanya program pemerintah berupa pembuatan talud di kedua sisi, serta lantainisasi saluran irigasi, menjadi momentum bagi warga untuk mewujudkan pemikiran mereka. Begitu program tersebut selesai, warga secara swadaya kemudian berinisiatif untuk mempercantik kawasan tersebut.

“Awalnya beberapa warga seperri Pak Dukuh, sejumlah ketua RT patungan. Saat itu hanya terkumpul Rp400 ribu. Lalu warga lain akhirnya tergerak untuk ikut menyumbang hingga terkumpul dana Rp4 juta. Dana itu lalu kita belikan kebutuhan seperti cat dan sebagainya untuk membuat kawasan ini menjadi cantik dan warna-warni,” katanya.

Selain mengecat dinding-dinding talud, warga juga bekerja bakti membersihkan kawasan itu dari sampah. Termasuk membuat taman-taman kecil serta tempat bermain dan bersantai untuk warga. Dari situlah kawasan saluran irigasi primer itu mulai banyak dikunjungi. Mulai dari warga dusun Blawong sendiri, hingga warga dari luar dusun bahkan luar desa.

“Karena telah berubah jadi lebih bersih, indah dan cantik, warga akhirnya segan untuk membuang sampah di situ. Dengan kesadaran sendiri, warga juga mulai berhenti membuang limbah rumah tangga mereka ke sungai. Mereka lalu membuat lubang-lubang peresapan pembuangan limbah sendiri,” katanya.

Melihat potensi wisata yang ada, warga pun kemudian berupaya mengelola dan mengembangkan kawasan itu menjadi tempat wisata yang lebih berorientasi bisnis. Berbagai pengembangan dilakukan oleh Pokdarwis yang baru saja terbentuk. Mulai dari menyediakan alat perlengkapan tubbing, tempat parkir, hingga fasilitas umum seperti toilet.

“Hanya dengan membayar Rp10 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati paket wisata yang ada. Mulai dari mendapatkan alat pelampung dan ban, tubbing dengan ditemani pemandu, serta mendapat minuman. Kalau untuk sewa pelampung saja Rp3ribu, ban juga Rp3ribu. Makan Rp7-10ribu, sedangkan dokumentasi Rp50ribu,” katanya.

Meski belum genap 1 bulan dibuka, wisata Dewa Batu Riverside Tubing ini telah ramai dikunjungi. Dalam sehari, jumlah pengunjung bahkan bisa mencapai 100 orang lebih, khususnya saat Sabtu Minggu. Bahkan tak sedikit, pengunjung berasal dari luar daerah. Terakhir saja terdapat rombongan pengunjung yang datang dari Malaysia.

“Rencananya ke depan kita akan kembangkan paket wisata lainnya. Antara lain dengan membuka wahana outbound di tepi sungai Opak yang masih dalam satu kawasan dusun. Termasuk menyinergikan dengan sejumlah potensi wisata yang sudah ada, seperti Batik Nitik khas desa Trimulyo dan wisata pertanian modern Bulak Ancak,” pungkasnya.

Lihat juga...