Saung Berkarya Wujudkan FPI Botanical Garden
Editor: Makmun Hidayat
BOGOR — Putri Cendana, Siti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Tutut Soeharto, mengenalkan produk pertanian berupa pupuk organik berteknologi nano kepada para santri saat berkunjung ke Pondok Pesantren Alam dan Agrokultural di Megamendung, Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/4/2019).
Pupuk organik tersebut hasil riset pusat pengembangan dan percontohan usaha pertanian dan peternakan Saung Berkarya yang berlokasi di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
“Pupuk organik cair Brigadium ini produksi adik saya, Bambang Triatmojo yang dibagikan kepada petani,” ujar putri sulung Presiden Soeharto saat dialog dengan pengurus pesantren dan para santri.
Dia menjelaskan, lahan sawah yang memakai pupuk tersebut, hasil panen terlihat padi lebih lebat dan bulir padi penuh.
Selain itu, Tutut Soeharto juga menjelaskan proses pembuatan biogas dari kotoran hewan yang merupakan hasil inovasi Saung Berkarya.
Dalam jalinan kerjasama dengan pesantren, ahli-ahli pertanian dari Saung Berkarya akan mengajarkan para santri. Bagaimana caranya membuat biogas tersebut.
“Kotoran ternak sapi diolah jadi biogas, ampasnya jadi pupuk dan air kencingnya diproses jadi pestisida,” kata Tutut Soeharto.
Pestisida hasil olahan tersebut dipatok seharga Rp 25 ribu perliter. “Nah, kencing sapi di sini dibuang-buang, kalau diproses jadi pestisida harganya mahal,” ujarnya.
Pengelola Saung Berkarya, Sri Wahyuni mengatakan, kelebihan pupuk organik ini adalah pemakaiannya yang tidak membutuhkan jumlah banyak. Sehingga mampu menekan kebutuhan pupuk dan biaya produksi para petani.
Ukuran pupuk ini sudah diperkecil. Sehingga 12 botol bisa digunakan untuk pemupukan lahan seluas 1 hektare. “Kami bawa lima dus pupuk organik. Itu kalau padi, jagung, atau kultikultural untuk lahan lima hektar,” ujar Sri.
Misi Saung Berkarya adalah jelas dia, mengembangkan pertanian dan peternakan terpadu. Di pesantren ini juga akan dikembangkan program tersebut.
Pihaknya, kata dia, akan berupaya mewujudkan pesantren ini berbasis holtikultur. “Jadi istilah zaman now namanya agro eco edu tourism. Kalau saran saya namanya FPI BOTANICAL GARDEN,” kata Sri disambut tepuk tangan hadirin.
Apalagi di area pesantren ini ada lahan seluas 30 hektar. Sri meminta agar dimaksimalkan didalam Agro Eco Edu tourisme. “Pertanian, pendudukan lingkungan dan wisata. Mudah kedepan saya akan bantu. Rumah saya di Ciomas Bogor. Insyaallah, saya nanti bisa bantuin,” ujarnya.
Dalam pengembangan akan dibuat kelompok-kelompok. Misalnya, satu kelompok menanam cabai atau tomat.
“Saya punya desain. Saya buat 10 hektar, itu ada zona perkebunan,perikanan dan hotikultural. Sama dengan misi pesantren ini, nanti saya kasih desainnya,” tutupnya.