Reuni, Untuk Mengenalkan dan Nguri-Uri Budaya Banyumas
Editor: Mahadeva
PURWOKERTO – Meskipun sudah tidak menjabat lagi sebagai Bupati Banyumas, namun kecintaan Mardjoko terhadap bumi Ngapak tidak pernah luntur.
Acara reuni mantan pegawai bea cukai, dibawanya ke Banyumas. Peserta diajaknya berkeliling ke tempat wisata, serta disuguhi pertunjukan tarian tradisional Banyumas. Pada malam ramah-tamah yang bertempat di kediaman Mardjoko, ratusan mantan pegawai bea cukai yang tergabung dalam Paguyuban Alumni Puspla Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Pasar Minggu, terlihat sangat menikmati pertunjukan calung.
Lima orang penari membawakan Tari Rumekso, yang merupakan hasil kreasi Mardjoko semasa masih menjabat sebagai Bupati Banyumas. Ada tiga tarian tradisional yang diciptakan Mardjoko saat menjadi bupati. Pertama Tari Calengsa, tarian ini pernah dipentaskan di Bali. Kemudian Tari Gumregah yang menggambarkan tentang keramah-tamahan warga Banyumas, serta sifat suka bekerja keras. Tarian ini pernah dipentaskan di Istana Negara di 2011 saat perayaan HUT RI.
Terakhir Tari Rumeksa yang pernah dipentaskan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat acara penghijauan di 2012. “Saya ingin memberikan kenangan yang tak terlupakan tentang Banyumas kepada teman-teman dan pertunjukan tarian tradisional ini ternyata sangat dinikmati oleh mereka,” tutur Mardjoko, Selasa (30/4/2019) malam.
Pensiunan pegawai bea cukai yang hadir berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Jakarta, Solo, Surabaya bahkan banyak pula yang berasal dari luar Jawa. Atas undangan Mardjoko, mereka berkumpul dan mengadakan reuni di Banyumas. Selama tiga malam, empat hari di Banyumas, berbagai tempat wisata dan pusat kuliner sudah dikunjungi. Mulai dari Baturaden, Small Word, Masjid Saka Tunggal, pusat batik Mruyung dan destinasi lainnya.

“Saya sangat senang bisa kembali lagi ke Banyumas, dulu pernah ke sini sewaktu Pak Mardjoko masih menjabat sebagai bupati. Ternyata perkembangan Banyumas sangat pesat, tempat wisata sudah bertambah banyak. Dunia sudah masuk di Banyumas, ada menara kembar, ada bunga sakura Jepang dan lain-lain,” kata Ketua Pantia Reuni, Suyono Tedjo Sentono.
Anggota paguyuban tersebut pada awalnya hanya berjumlah 340 orang. Sebagian ada yang sudah meninggal dunia. Rata-rata usianya di atas 70 tahun, yang tertua berusia 79 tahun. Sekarang anggota paguyuban tinggal sekitar 100 orang Suasana malam ramah-tamah berlangsung meriah, Setelah pertunjukan tarian Rumekso yang dibawakan para mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, selaku tuan rumah, Mardjoko tampil membawakan dua lagu Banyumas.
Tak lupa Dia berpantun dengan bahasa Banyumasan. Tepuk tangan dari peserta reuni terus menggema sepanjang penampilannya. Mantan bupati Banyumas ini memang sangat lihai dalam menyanyi, hingga mendalang. Meskipun sudah berusia lanjut semua, namun mereka tetap bersemangat menghabiskan waktu hingga malam hari.