Ratusan Warga Ikuti Upacara Labuhan Gunung Merapi
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Ratusan warga bersama para abdi dalem Keraton Yogyakarta, mengikuti upacara adat Sedekah Labuhan Merapi di Lereng Gunung Merapi, Sleman, Minggu (7/4/2019) pagi. Upacara adat ini rutin digelar Keraton Yogyakarta sebagai rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun kenaikan tahta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono X, yang kali ini ke-31 tahun.
Tahun ini, Upacara Labuhan Merapi mendapatkan antusiasme dari masyarakat yang cukup tinggi. Terlihat dari banyaknya peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, jumlah peserta mencapai dua kali lipat dari tahun lalu.
Seperti biasa, upacara Labuhan Merapi ini dimulai dengan persiapan berupa pemanjatan doa, dipimpin Juru Kunci Merapi, Mas Kliwon Surakso Hargo atau biasa disapa Mas Asih, di Petilasan Hargodalem atau Petilasan Mbah Maridjan, di Dusun Kinahrejo.
Rombongan kemudian berjalan kaki menuju puncak Srimanganti, yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Kinahrejo. Para abdi dalam nampak membawa ubo rampe atau barang persembahan yang ditaruh di dalam kotak berbungkus kain putih.
Setelah berjalan kurang lebih satu jam, rombongan akhirnya sampai di Puncak Srimanganti. Begitu sampai, prosesi Labuhan pun dimulai. Diawali dengan pemanjatan doa dan pembakaran kemenyan, pimpinan abdi dalem kemudian membuka ubo rampe satu persatu.

Setelah itu, Juru Kunci Merapi, Mas Kliwon Surakso Hargo, memimpin kembali doa persembahan kepada Gunung Merapi. Upacara Labuhan kemudian diakhiri dengan menaburkan bunga di atas batu serta pembagian sedekah berupa kepalan nasi ketan kepada warga.
Juru Kunci Merapi, Mas Kliwon Surakso Hargo, mengatakan, upacara labuhan ini merupakan kegiatan rutin yang digelar sebagai wujud rasa syukur sekaligus memohon doa kepada Tuhan YME, atas kelimpahan nikmat dan karunia yang telah diberikan.
“Merapi merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat. Karena itu, kita wajib bersukur kepada Tuhan YME, karena telah diberikan nikmat kehidupan lewat Merapi,” katanya.
Sejumlah barang yang dilabuh, antara lain, beberapa kain jarik seperti sinjang limaran, sinjang cangkring, semekan gadung melati, dan semekan bangun tulak.
“Barang-barang ini memiliki makna masing-masing. Seperti semekan bangun tulak itu sebagai simbol tolak bala,” ujar Mas Asih.