Warga Lamsel Lestarikan Pohon Kaya Manfaat, Rumbia
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Keberadaan pohon Rumbia (Metrxylon sagu) masih banyak dipertahankan oleh masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan. Pohon jenis palma yang kerap disebut pohon sagu atau rembias ini kerap tumbuh di lingkungan rawa air tawar, daerah aliran sungai serta sejumlah lahan basah lainnya.
Susilawati, warga di Dusun Pahabung, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyebut daerah lahan basah tepi aliran sungai Way Asahan masih menjadi tempat tumbuh alami pohon Rumbia.

Wanita yang bekerja sebagai petani tersebut mengungkapkan, tanaman Rumbia sudah ada di wilayah tersebut sejak era 1980. Sejak kecil, ia mencari buah Rumbia yang memiliki rasa manis, sepat menyerupai buah Salak. Beberapa bagian batang pohon Rumbia mulai batang hingga daun, bahkan kerap dimanfaatkan oleh keluarganya untuk bahan bangunan, bahan makanan serta berbagai kebutuhan lain. Ratusan pohon Rumbia itu tumbuh secara alami, dan sebagian sengaja ditanam oleh masyarakat.
Menurutnya, pelestarian Rumbia masih dilakukan oleh warga yang berprofesi sebagai pekebun dan petani. Sebab, dengan sistem berhuma, umumnya petani membuat gubuk beratapkan daun Rumbia.
Penebangan pohon Rumbia, dipilih berdasarkan usia, terutama untuk pemanfaatan bagian batang untuk diambil bagian pati. Pemanfaatan pati Rumbia kerap dilakukan menjelang bulan Ramadan, untuk pembuatan berbagai jenis kuliner.
“Bagi masyarakat tradisional Lampung, keberadaan tanaman Rumbia sangat, penting karena menyangkut bahan makanan serta bangunan, sehingga tetap dipertahankan hingga kini,” terang Susilawati, Rabu (13/3/2019).
Susilawati juga menyebut, bagi sebagian wanita, keberadaan pohon Rumbia sangat penting, karena pasokan air terjaga dengan baik. Di sekitar pohon Rumbia, warga membuat belik atau sumur yang dipergunakan sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan warga.
Dengan menjaga keberadaan pohon Rumbia, katanya, saat kemarau panjang pasokan air di wilayah tersebut masih tetap terjaga dengan baik.
Sebagai tanaman konservasi lingkungan, Susilawati mengungkapkan, tanaman Rumbia juga dipertahankan di sejumlah lahan rawa-rawa. Lahan rawa atau lahan basah yang ditumbuhi oleh tanaman Rumbia, kerap disertai tanaman pakis.
Selain bisa menjadi tempat mempertahankan konservasi air, keberadaan pakis menjadi sumber bahan makanan tradisional. Saat membutuhkan uang, sejumlah pohon Rumbia kerap dijual kepada pembuat tepung sagu dengan harga jual Rp200.000 per batang.
Warga lain bernama Linawati, pemilik kebun yang lahannya ditumbuhi pohon Rumbia, mengaku keluarganya masih memanfaatkan Rumbia untuk berbagai kebutuhan.
Memiliki akar rimpang panjang bercabang dengan daun seperti pelepah kelapa, kerap dimanfaatkan untuk membuat atap. Pembuat atap kerap membeli satu pelepah dengan harga Rp3.000, dan dijual dalam bentuk atap seharga Rp8.000 per lembar.
“Bagi kami, warga yang mempertahankan tanaman Rumbia paling pokok agar pasokan air tetap terjaga, untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan saat kemarau melanda,” beber Linawati.

Sumber air bersih yang terjaga selama puluhan tahun, kata Linawati, kerap dipergunakan untuk menyiram tanaman sayuran ketika kemarau. Bahkan saat musim kemarau, sejumlah masyarakat yang membutuhkan air bersih mengambil air dengan jerigen. Sejumlah warga lain juga memanfaatkan air bersih dengan mempergunakan selang.
Tanaman Rumbia yang memiliki kemampuan menyimpan air, bertahan selama enam tahun lalu bisa dipanen untuk dibuat menjadi tepung sagu.
Keberadaan tanaman sagu yang menjadi sumber pasokan air bersih juga dirasakan manfaatnya oleh sejumlah petani. Bikan, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut berkat keberadaan pohon Rumbia, ia masih bisa menggarap lahan sawahnya.
Sumber air bersih dari sekitar pohon Rumbia, mengalir ke areal persawahan petani setelah ditampung pada sebuah bendungan. Saat kemarau melanda, ia menyebut lahan pertanian tersebut masih memiliki sumber pasokan air untuk pengairan.
“Pohon Rumbia yang masih dipertahankan menjadi sumber mata air, masih menjadi sumber utama bagi kebutuhan pengairan melalui saluran irigasi,” terang Bikan.
Bikan juga menyebut, mempertahankan tanaman Rumbia menjadi salah satu investasi lingkungan jangka panjang. Saat sejumlah lahan datar berubah menjadi pemukiman, wilayah yang ditumbuhi pohon Rumbia sebagai lahan basah masih menjadi sumber pasokan air bersih.
Meski dilakukan penebangan untuk kebutuhan pembuatan tepung sagu, Bikan berharap, warga yang memiliki tanaman sagu bisa melakukan regenerasi tanaman kaya manfaat tersebut.