Hujan Deras, Volume Sampah di Bendungan Sukaraja Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan (Lamsel) dalam beberapa hari terakhir mulai berimbas pada peningkatan volume sampah. Puluhan kubik sampah didominasi sampah batang kayu, sampah plastik meningkat di bendungan Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lamsel.

Budiman, salah satu pemilik lahan sawah di desa tersebut mengaku, volume sampah meningkat seiring hujan yang masih berlangsung sejak beberapa hari terakhir. Pada Rabu (6/3/2019) ia bahkan menyebut, hujan deras masih mengguyur wilayah tersebut berimbas debit sungai Way Pisang bertambah.

Imbasnya, Budiman memastikan bendungan Sukaraja terus akan mengalami ketinggian air. Sampah yang menumpuk pada pintu air disebut Budiman, membuat air sungai Way Pisang meluap ke lahan perkebunan warga.

Pemilik lahan sawah seperti dirinya telah melakukan upaya pembersihan sampah yang menumpuk di pintu air tersebut meski volume sampah terus bertambah. Sampah yang ikut mencemari lingkungan sungai menurutnya dominan berasal dari perkebunan warga, berupa limbah pertanian dan perkebunan.

Limbah pertanian tersebut di antaranya batang tanaman jagung, pisang, ranting kayu hingga batang dan akar pohon. Bendungan sepanjang 20 meter tersebut bahkan menjadi tempat berkumpulnya sampah akibat batang kayu yang sudah terkumpul menjadi penghalang bagi aliran air dari wilayah Kecamatan Penengahan menuju ke Kecamatan Palas.

Warga yang memiliki lahan sawah kerap membersihkan sampah agar sampah tidak masuk ke saluran irigasi.

Budiman, salah satu pemilik lahan sawah di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan memantau ketinggian air bendungan Sukaraja – Foto: Henk Widi

“Petani secara swadaya melakukan pembersihan pada pintu-pintu air yang menuju ke saluran irigasi karena volume sampah terus bertambah oleh sampah plastik serta berbagai jenis sampah rumah tangga,” terang Budiman, salah satu petani di Desa Sukaraja, saat ditemui Cendana News, Rabu (6/2/2019).

Sejumlah warga yang berada di sekitar bendungan disebut Budiman, kerap ikut membersihkan sampah di pintu bendungan. Sampah berupa kayu diambil oleh warga untuk bahan bakar pembuatan batu bata terutama jenis kayu keras berupa batang pohon.

Selain pencari kayu bakar sejumlah pencari barang bekas berupa sampah plastik yang masih bisa dimanfaatkan mengumpulkan botol air mineral untuk dijual. Selain mengurangi volume sampah, bendungan Sukaraja yang dikenal dengan Bendungan Indah tersebut kembali lancar.

Budiman menyebut, sampah yang tidak dibersihkan saat musim penghujan berimbas pendangkalan (sedimentasi). Sedimentasi tersebut mengakibatkan alur sungai Way Pisang bertambah sempit sehingga sejumlah lahan perkebunan di sepanjang bantaran sungai tersebut berpotensi terendam banjir.

Imbas sedimentasi ditambah volume sampah yang bertambah luapan sungai Way Pisang merendam sejumlah lahan sawah serta lahan perkebunan sawit di sekitar daerah aliran sungai.

Sunyoko, petani padi di Dusun Lebung Larangan, Desa Sukaraja, menyebut, sampah sungai bisa berimbas tanggul penangkis jebol. Ia menyebut, sejumlah sampah yang kerap mengakibatkan tanggul jebol saat musim penghujan berupa sampah bambu.

Sampah yang dibuang oleh masyarakat pascapenebangan di kebun membuat aliran sungai terbendung berimbas sungai meluap dan merendam ratusan hektare lahan sawah di Desa Sukaraja, Desa Sukamulya, Desa Palas Bangunan.

Sunyoko, salah satu petani lahan sawah di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

“Selain kerusakan lingkungan akibat sampah, dampak paling dirasakan oleh petani penanam padi yang sawahnya terendam dipastikan gagal panen karena tanaman padi busuk,” beber Sunyoko.

Sunyoko menyebut, di bawah tanggul sungai Way Pisang yang jebol saat ini sampah menumpuk sekaligus menghalangi aliran air. Kondisi tersebut persis serupa dengan sampah yang menumpuk di pintu bendungan Sukaraja berimbas sungai Way Pisang meluap.

Hujan deras yang masih melanda wilayah Lampung Selatan disebut Sunyoko akan berimbas kerusakan pada lahan pertanian. Sejumlah sampah plastik, batang pohon yang terbawa aliran sungai Way Pisang disebutnya merusak areal persawahan bercampur lumpur.

Sunyoko berharap di bagian hulu dan daerah aliran sungai Way Pisang warga tidak membuang sampah sembarangan. Sebagian sampah yang dibuang di sungai Way Pisang disebutnya didominasi oleh sampah rumah tangga, sampah pasar yang sudah dimasukkan dalam karung.

Sejumlah sampah yang dibuang ke sungai diakuinya sebagian merupakan sampah berbahaya berupa pecahan kaca, besi yang terbawa aliran sungai dan masuk ke lahan sawah.

Ia menyebut, sampah yang dibuang ke sungai tersebut merupakan kiriman dari sejumlah wilayah di aliran sungai Way Pisang berimbas penyumbatan di sejumlah bendungan dan aliran sungai.

Selain menumpuk di bendungan Sukaraja, sampah juga terlihat menumpuk di bendungan Sungai Way Asahan dan bendungan Palas Pasemah. Penumpukan sampah di bendungan diakuinya akan semakin bertambah akibat potensi hujan deras masih melanda wilayah Lampung Selatan.

Lihat juga...