DLH Sarankan Warga Kawasan Padat di Pesisir Selatan Buat Lubang Biopori

Editor: Koko Triarko

PESISIR SELATAN – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, menganjurkan kepada yang tinggal di kawasan padat penduduk di daerah tersebut, untuk melakukan antisipasi genangan air melalui lubang biopori. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Pesisir Selatan, Jumsu Trisno, mengatakan pembuatan lubang biopori dianggap perlu sebagai upaya menjaga keseimbangan air tanah, agar terhindar dari ancaman kekeringan saat memasuki musim kemarau.

Ia menjelaskan, lubang biopori yang berfungsi sebagai serapan air ketika musim hujan, bisa berfungsi sebagai penyimpanan atau cadangan air, di samping juga dapat dimanfaatkan sebagai media pengisap sisa limbah buangan rumah tangga jenis organik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pesisir Selatan, Jumsu Trisno/ Foto: Ist

“Lubang biopori pada kawasan padat penduduk atau kawasan perumahan, bisa dijadikan sebagai tempat cadangan air di saat musim kemarau. Sebab di saat musim hujan, lubang biopori memiliki fungsi sebagai serapan air dan mengatasi banjir, di samping juga dapat dimanfaatkan sebagai media penghisap limbah buangan rumah tangga. Maka dari itu, saya anjurkan masyarakat melakukan lubang biopori,” katanya, Sabtu (30/3/2019).

Jumsu Trisno juga menyebutkan, bahwa biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Bahkan, biopori memiliki fungsi yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan.

Di antaranya memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah, sehingga menambah air tanah. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.

Serta dapat mengurangi risiko banjir di musim hujan. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah. Serta mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Dijelaskannya, bahwa cara membuat lubang biopori tersebut adalah dengan cara menggali lubang secara vertikal, dengan diameter 10 centimeter, kedalaman 100 centimeter atau tidak sampai melampaui muka air tanah.

Dia menekankan, dalam membuat lubang biopori ini, jarak antara lubang satu dengan yang lainya 50-100 sentimeter, mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 centimeter dengan tebal 2 centimeter di sekeliling mulut lubang. Selanjutnya lubang di isi dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau dari sisa pangkasan rumput.

“Jadi penambahan sampah organik ke dalam lubang yang telah berkurang, juga perlu dilakukan. Hal itu memang akibat dari penyusutan dan proses pelapukan. Nah, kompos yang sudah terbentuk dalam lubang itu, dapat diambil setiap akhir musim kemarau. Pengambilan kompos itu sekaligus bertujuan untuk pemeliharaan terhadap lobang resapan tersebut,” terangnya.

Lebih jauh dijelaskan, bahwa biopori juga bermanfaat secara arsitektur lanskap, sehingga telah digunakan sebagai pelengkap pertamanan di berbagai rumah mewah dan rumah minimalis yang menerapkan konsep rumah hijau.

“Tidak hanya itu, biopori juga telah menjadi pelengkap penerapan kebijakan luas minimum ruang terbuka hijau di perkotaan. Berdasarkan berbagai manfaat itu, kita menganjurkan kepada masyarakat untuk membuat biopori. Tapi untuk ruang terbuka hijau seperti di Taman Spora Masjid Akbar Painan sudah diterapkan di daerah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V juga telah lama mensosialisasikan perlunya melakukan upaya genangan air melalui pembuatan lubang biopori.

Kepala BWSS V, Maryadi Utama, mengatakan selain di Kabupaten Pesisir Selatan telah mulai bergerak, untuk di Kota Padang telah jauh-jauh hari melakukan pembuatan lubang biopori.

“Kita dari BWSS telah meminta kepada Pemko Padang melakukan lubang biopori di sepanjang jalan protokol. Tujuan jelas untuk mengurangi genangan air dan banjir di jalan protokol tersebut. Bahkan, kita mengusulkan 1.000 lubang biopori dapat dilakukan. Tapi sejauh ini, belum semua rencana itu terwujud, hanya sebagian kecil saja,” ujarnya.

Menurutnya, pembuatan seribu lubang biopori sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat. Apalagi, sebut Maryadi, pembuatan lubang biopori juga cukup mudah dan murah untuk diterapkan masyarakat. Peralatan yang dipergunakan juga sederhana.

Masyarakat hanya perlu melubangi tanah dengan menggunakan bor tanah. Buat lubang dengan kedalaman kurang lebih satu meter, dan diameter 10-30 cm.

Setelah itu, lapisi lubang menggunakan pipa PVC yang ukurannya sama dengan diameter lubang. Kemudian, isi lubang dengan sampah organik seperti daun, rumput, kulit buah-buahan, dan sampah yang berasal dari tanaman lainnya.

“Setelah itu, tutup lubang menggunakan kawat besi, atau bisa juga memakai tutup pipa PVC yang sudah dilubangi terlebih dahulu. Cukup mudah, tapi tergantung keinginan juga, kalau mau maka bisa dilakukan,” sebutnya.

 

Lihat juga...