Sistem Tebas Bakar Berimbas Polusi Lingkungan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Pembakaran limbah sisa panen jagung mengakibatkan asap penyebab polusi lingkungan

LAMPUNG — Musim panen jagung di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mulai memasuki puncaknya jelang akhir Februari. Sebagian petani memilih membersihkan limbah panen dengan menggunakan sistem tebas bakar.

Widodo salah satu petani jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan mengklaim sistem tebas bakar efektif dalam pembersihan lahan. Meski asap menimbulkan polusi, cara tersebut masih dipertahankan.

Widodo menyebutkan, usai dilakukan proses pengumpulan sisa panen dilakukan proses pembersihan atau dikenal perun dengan membakar. Selain lebih cepat, ia meyakini abu pembakaran dapat dipergunakan sebagai pupuk.

“Proses pemerunan dengan cara membakar selain menghasilkan abu untuk pupuk bisa membakar rumput yang bisa menjadi gulma pada lahan jagung,” terang Widodo saat ditemui Cendana News, Rabu (27/2/2019)

Lokasi perkebunan yang jauh dari lingkungan permukiman membuat ia memilih membakar limbah panen jagung. Ia juga beralasan proses pembakaran hanya membutuhkan waktu singkat sehingga asap yang dihasilkan tidak berlangsung lama.

Tebas Bakar
Widodo, salah satu petani jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan

Gunawan, salah satu pemilik lahan di Desa Kelaten yang tengah merontokkan jagung menyebutkan, limbah yang dihasilkan berupa tongkol atau janggel kerap dibakar. Proses pembakaran disebutnya lebih efektif karena dalam kondisi normal akan hancur menjadi tanah dalam kurun waktu satu tahun.

“Selain itu, saat panen, cara terbaik untuk memanfaatkan limbah dengan menjadikannya sebagai campuran pakan,” beber Gunawan.

Beberapa pemilik ternak kerap memesan puluhan karung jenjet setelah proses perontokan. Selain itu, klobot atau kulit jagung serta daun juga kerap dimanfaatkan juga sebagai bahan pakan ternak sapi. Pemanfaatan tersebut membuat petani hanya membakar batang jagung.

Pemusnahan seusai panen dengan sistem tebas bakar berimbas polusi lingkungan sempat dikeluhkan sejumlah pengguna jalan. Sejumlah pengendara di Jalinsum wilayah Penengahan, Bakauheni dan Kalianda bahkan harus mengalami kabut pekat saat proses pembakaran.

Asap beraroma menyengat membuat pengendara terutama roda dua mengalami gangguan pernapasan. Selain mengganggu sistem pernapasan asap yang menjadi polusi lingkungan juga mengakibatkan mata pedih saat melintas di dekat lokasi pembakaran limbah jagung.

Lihat juga...