Bermain di Pantai Way Muli Sembari Berburu Kerang

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Libur akhir pekan dimanfaatkan masyarakat untuk berlibur di pantai Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel). Sebagian masyarakat memanfaatkan surutnya air laut untuk bermain di pantai, sekaligus berburu kerang.

Siti Rodiah, warga Desa Way Muli Timur, menyebut dua bulan usai tsunami yang melanda wilayah pesisir Rajabasa, masyarakat pesisir masih jarang melakukan aktivitas di pantai. Selain trauma, sebagian warga yang berprofesi sebagai nelayan masih belum beraktivitas akibat perahu rusak.

Siti Rodiah menyebut, selain orang dewasa, anak-anak usia sekolah memanfaatkan waktu libur untuk bermain di pantai. Surut terjauh hingga puluhan meter merupakan fenomena normal yang kerap ditunggu masyarakat.

Siti Rodiah memperlihatkan kerang yang dicari sembari berlibur di pantai Way Muli Timur,Kecamatan Rajabasa,Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Meski demikian, pascatsunami pada 22 Desember 2018, surutnya air laut kerap dikuatirkan warga. Namun, kini kondisi tersebut mulai menjadi momen untuk berburu bahan makanan dari laut tanpa menggunakan alat tangkap.

“Saya mengajak anak-anak untuk mencari sejumlah bahan makanan dari laut berupa kerang, ikan, rumput laut jenis atau warga di wilayah ini menyebutnya lattu untuk lalapan,” terang Siti Rodiah, Minggu (24/2/2019).

Warga, sebut Siti Rodiah, kerap berbekal ember dan plastik untuk mengumpulkan kerang bulu, kima, teripang serta ikan karang. Berburu bahan makanan dari laut merupakan kali pertama dilakukan warga, setelah dua bulan silam wilayah tersebut dilanda tsunami.

Rasa trauma warga di pesisir pantai, menurutnya sudah mulai sirna dengan mulai kembali beraktivitasnya warga di sekitar pantai, termasuk nelayan tangkap.

Salah satu kerang favorit yang kerap dicari warga di sekitar pantai, merupakan jenis kerang bulu dan kerang mata batu. Kerang tersebut kerap bersembunyi di ceruk batu karang serta pasir pantai, sehingga saat air pasang surut, bahan makanan tersebut mudah diperoleh.

Ia menyebut, selama waktu surut air laut sejak pagi hingga siang, bisa mendapatkan satu ember penuh kerang berbagai jenis. Kerang selanjutnya direbus, dicungkil sehingga bisa dijadikan berbagai variasi kuliner.

“Variasi kuliner dari kerang biasanya dibuat menjadi sate, digoreng atau sekadar direbus dengan campuran saos,” terang Siti Rodiah.

Aktivitas di pantai, sekaligus menjadi cara mengobati trauma bagi anak-anaknya yang sempat takut akan laut. Waktu liburan sekolah, sekaligus menjadi waktu untuk mengajak anak-anaknya rekreasi di tepi pantai.

Sebab, selama hampir dua bulan lebih ia tinggal di lokasi pengungsian. Selain sang anak, sang suami juga ikut mencari gurita di pantai Way Muli, yang surut untuk diolah menjadi makanan.

Kondisi air laut yang surut juga dimanfaatkan oleh pengunjung pantai Merak Kunjir, untuk bermain dengan kano, snorkeling serta berenang.

Ismiati, salah satu pengunjung yang mengajak keluarganya mengaku bermain di pantai sudah tidak membuatnya kuatir. Kondisi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terlihat tenang tanpa aktivitas erupsi, membuat wisatawan mulai kembali memadati sejumlah objek wisata bahari.

“Kondisi perairan saat ini mulai tenang, bahkan surut seperti kondisi normal dengan air yang jernih, saat libur akhir pekan pantai masih jadi pilihan,” terang Ismiati.

Kawasan pantai wisata Merak Kunjir yang berada tepat di jalan lintas pesisir, sebut Ismiati, sekaligus menjadi tempat yang nyaman untuk berwisata.

Sejumlah lokasi penjualan kuliner sudah tersedia di pantai wisata Merak Kunjir, sehingga pengunjung bisa menikmati kuliner sembari berwisata.

Membawa bekal makanan dari rumah, juga menjadi pilihan dengan kondisi air laut surut, ia bisa mencari lalapan berupa rumput laut jenis lumai.

Antia dan Santi, anak-anak di pesisir Desa Way Muli Timur, pun mengaku mulai berani bermain di pantai. Bersama puluhan anak lainnya, mereka mencari kerang bersama teman-teman sebaya.

Sebagian anak laki-laki seusianya, bahkan memanfaatkan waktu untuk bermain layang-layang. Sejumlah anak-anak tersebut merupakan anak usia sekolah yang bersekolah di SDN Kunjir dan SDN Way Muli.

Berbekal plastik serta bungkus mi instan bekas, Antia dan kawan-kawannya berburu kerang di sekitar batu karang pantai Way Muli Timur.

Kegiatan tersebut menjadi pengisi waktu libur akhir pekan, setelah selama dua bulan tidak pernah bermain di pantai. Pantai yang surut dengan kondisi air yang dangkal, memudahkan anak-anak sebayanya mendapatkan kerang, teripang serta ikan.

Bermain di pantai menjadi kegiatan menyenangkan yang murah meriah, khas anak-anak pesisir Rajabasa.

 

Lihat juga...