UNICEF Minta Dinkes Sumbar Tingkatkan Imunisasi MR
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Pihak United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) menyayangkan capaian imunisasi Measles and Rubela (MR) di Provinsi Sumatera Barat yang masih sangat kecil sepanjang tahun 2018. Pihaknya khawatir, jika tidak segera dilakukan, ancaman penyakit bisa menghantui anak-anak di Ranah Minang.
Konsultan UNICEF, Asmaniar Saleh mengatakan, di Indonesia imunisasi MR baru mulai digalakan pada pertengahan 2018 lalu. Dimana pada Agustus di Sumatera Barat mulai dilakukan imunisasi. Bahkan saat dimulai saja, muncul persoalan sehingga ada beberapa daerah di Sumatera Barat menghentikan sementara pemberiannya. Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan daerah yang paling tinggi capaian imunisasi MR nya.
“Kita di UNICEF melihat persoalan pemberian imunisasi MR terhadap anak-anak di Indonesia jauh berbeda jika dibandingkan dengan negara lainnya. Artinya Indonesia menghadapi banyak persoalan untuk melaksanakan pemberian vaksin itu. Hal ini dikarenakan hampir sebagian besar penduduk di Indonesia beragama Islam, sehingga diperhatikan betul zat-zat yang terkandung dalam vaksin yang diberikan itu, halal atau haram,” katanya, Jumat (11/1/2019).
Ia menduga sebagian besar hal yang membuat pemberian vaksin MR di Sumatera Barat rendah, adanya imbauan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk tidak memberikan vaksin MR kepada anak-anak, karena adanya vaksin itu yang mendandung zat babi. Dengan adanya imbauan dari MUI itu, muncul keraguan masyarakat untuk memberikan vaksin MR.
Masalah itu, sebutnya, tidak hanya berlaku di Sumatera Barat, tetapi juga berlaku di Provinsi Aceh. Hal ini juga yang membuat Aceh berada di urutan terakhir dalam capaian imunisasi MR secara nasional, dan di atas Aceh barulah Provinsi Sumatera Barat.
“Saya memahami sah-sah saja jika masyarakat ragu apalagi ada imbauan dari MUI. Tapi Kemenkes perlu juga memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa zat dalam vaksin itu aman dan halal untuk digunakan sebagai kekebalan tubuh dari ancaman campak dan rubela. Kalau vaksinnya itu sendiri setahu saya berasal dari India dan bukan dari Jepang,” katanya lagi.
Asmaniar menyatakan dalam memberikan vaksin MR ini, pihak rumah sakit atau pun petugas medis di lapangan yang bertugas hingga ke Puskesmas dan Posyandu, tidak bisa memaksa masyarakat supaya anak-anaknya diberikan vaksin MR. Karena memang dari UNICEF sendiri tidak ingin ada indikasi pemaksaaan dari pemberian vaksin tersebut, sebab yang nama memberikan obat itu, tergantung pasiennya.
“Misalnya jika ada masyarakat yang datang ke rumah sakit barobat, maka dilayani sebagai pasien untuk mendapat obat. Tidak mungkin juga orang tidak sakit, malah dipaksa untuk berobat. Intinya atas kesadaran orangtuanya untuk membawa anaknya dalam hal pemberian vaksin MR,” ucapnya.
Hal yang disesalkan adalah usaha sosialisasi tidak ada, dan masyarakat tidak berpikir untuk mengantisipasi anak-anaknya supaya tidak terkena campak dan rubela. Sementara di Sumatera Barat, telah melakukan sesuai arahan dari Kementerian Kesehatan RI.
“Jadi setelah saya melihat data realisasi imunisasi MR di Sumatera Barat, dan memang sangat disayangkan begitu sedikit anak-anak yang telah diimunisasi. Untuk itu UNICEF minta kepada Dinas Kesehatan Sumatera Barat, dalam menjalankan tahun 2019 ini, bisa menyelesaikan minimal 90 persen anak-anak di Sumatera Barat dapat vaksin MR,” ungkapnya.
Pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat mencatat hingga 31 desember 2018 capaian imunisasi MR hanya 41,61 persen dari target 1,5 juta anak.
Artinya dari jumlah itu, imunisasi MR di Sumatera Barat yang telah diberikan kepada anak-anak sebanyak 630.326 orang anak. Jumlah itu sangat jauh dari target yang ditetapkan.
Menurutnya, masih ada 884.583 anak di sumatera barat yang belum di imunisasi MR sepanjang tahun 2018.
“Suatu hal yang sangat disayangkan masih banyaknya anak-anak di Sumatera Barat yang belum mendapatkan imunisasi MR. Saya menyadari bahwa usaha dan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mensosialisasikan imunisasi MR telah maksimal,” ucapnya.