Pascatsunami, Tanaman Warga Pesisir Pantai Lamsel Layu

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Material vulkanik berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pascatsunami pada Sabtu (22/12/2018) mulai menyebar di sejumlah wilayah perairan Lampung. Batu apung hingga pasir apung mulai memenuhi area perairan provinsi Banten hingga Jakarta.

Samsul Bahri (40) warga desa Maja kecamatan Kalianda menyebutkan, terjangan tsunami menyebabkan kerusakan pada sejumlah tumbuhan di tepi pantai. Mulai dari rumput hingga tanaman produktif.

Samsul Bahri yang tinggal belasan meter dari bibir pantai Kalianda menyebutkan, sejumlah tanaman pisang, serai, jahe, kunyit, kakao miliknya terlihat layu. Secara fisik sejumlah tanaman tersebut terlihat memiliki daun berwarna kuning dengan batang kering.

Dugaan sementara kematian sejumlah tanaman tersebut imbas air laut yang naik ke daratan.

“Masyarakat mengalami kerusakan pada sejumlah tanaman, bahkan jagung milik petani layu dan rusak. Kadar garam tinggi terutama yang menggenang membuat perakaran tanaman busuk,” terang Samsul, salah satu nelayan sekaligus anggota Radio Antar Penduduk Indonesia saat ditemui Cendana News, Rabu (2/1/2019).

Disebutkan, saat terjadi pada saat terjangan badai siklon tropis Dahlia pada November 2017 tidak mengakibatkan sejumlah tanaman rusak.

“Baru saat ada erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan tsunami tanaman menjadi layu. Warga menduga kematian tanaman disebabkan oleh zat zat kimia dari GAK,” beber Samsul Bahri.

Hal senada juga disampaikan, Wahyudi (38). Ia mengatakan, material vulkanik memenuhi muara sungai Way Mara berimbas sejumlah pohon rumbia rusak dan tanaman pisang serta sejumlah tanaman lain mati.

Meski sejumlah tanaman dipastikan mati ia menyebut pasir erupsi Krakatau selanjutnya justru akan menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman.

“Awalnya sejumlah tanaman akan layu dan mati namun tunas yang muncul nanti selanjutnya akan subur,” ungkap Wahyudi yakin.

Salah satu pencari barang bekas layak jual, Lukman menyebut paska erupsi GAK, sampah bertebaran di sepanjang pantai Rajabasa. Warga desa Banding tersebut bersama istri dan anaknya melakukan penyisiran di sejumlah pantai untuk mencari sampah.

Sampah yang berasal dari sungai dan perkampungan warga saat terjadi tsunami menyebar hingga ke wilayah lain. Sejumlah peralatan rumah tangga berupa panci, ember plastik sebagian besar dalam kondisi rusak bahkan ditemukan.

“Sampah plastik berbagai jenis kami temukan sebagian memiliki nilai jual sembari mencari rongsokan saya ikut membersihkan sampah dari pantai,” beber Lukman.

Pascatsunami
Mukri, Manager of Disaster Management WALHI. Foto: Henk Widi

Sementara itu, Manager of Disater Management Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Mukri Friatna menyebutkan, ancaman dan resiko bencana yang dialami masyarakat pesisir Lamsel merupakan sebuah peringatan. Perlu ada permufakatan dan kesepakatan bersama terkait lingkungan sepadan pantai.

“Saya sudah berdiskusi dengan sejumlah warga kalau seandainya garis utama permukiman adalah rumah rumah yang tidak rusak dan selanjutnya wilayah yang sudah rusak tidak lagi dibangun hunian atau perumahan mengingat resiko bencana yang bisa terjadi kapan saja,” terang Mukri Friatna.

Mukri mengapresiasi langkah pemerintah dalam upaya penanganan darurat. Setelah itu, pemerintah wajib memutuskan dengan catatan musyawarah dan mufakat untuk pembangunan hunian baru.

Mukri Friatna menyebut ia telah melakukan dialog dengan sejumlah masyarakat terdampak bencana yang selamat. Mereka bersedia pindah dari kawasan yang berpotensi terdampak bencana dengan catatan tidak direlokasi.

“Warga bersedia membangun perumahan dengan batas rumah rumah yang masih utuh tidak terkena tsunami,asal mereka jangan direlokasi ke lokasi lain,”terang Mukri Friatna.

Alasan warga ungkap Mukri Friatna dengan bersedia mundur membangun perumahan jauh dari bibir pantai karena keterbatasan lahan. Lahan yang tersedia di wilayah tersebut dan memungkinkan untuk pembangunan perumahan disebutnya sudah dibeli oleh perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Keterbatasan lahan membuat masyarakat pesisir pantai memanfaatkan pesisir pantai untuk hunian tempat tinggal. Lingkungan permukiman warga yang rusak disebutnya akan diubah menjadi kawasan ruang terbuka hijau (RTH).

Lihat juga...