Migrasi, Memicu Pertambahan Penduduk Miskin di Riau

Ilustrasi - rumah warga miskin -Dok: CDN

PEKANBARU – Pemprov Riau menyatakan, tingginya tingkat perpindahan penduduk dari luar daerah atau migrasi, menjadi pemicu bertambahnya jumlah penduduk miskin di daerah tersebut pada 2018.

“Penyebabnya adalah migrasi penduduk dari luar Riau yang datang dalam kategori miskin, dan umumnya tak punya skill (kepandaian),” kata Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Ahmad Hijazi, Rabu (2/1/2019).

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Riau saat ini bertambah menjadi 500.400 jiwa. Di 2017, jumlahnya yang mencapai 496.390 jiwa. Ini artinya selama tahun, orang miskin di Riau bertambah sekira 4.000 orang. Komposisi penduduk miskin di Riau, 8,09 persen ada di perdesaan, sedangkan di perkotaan ada 6,35 persen. Dari keseluruhan jumlah penduduk di Riau, yang mencapai sekira enam juta jiwa, penduduk miskin mencapai 7,39 persen.

Persentase itu sedikit menurun dibandingkan 2017 yang mencapai 7,41 persen. “Walaupun penduduk miskin meningkat 4.010 jiwa, namun persentase tingkat kemiskinan terus menurun sejak 2016,” ujarnya.

Migrasi penduduk dari luar provinsi menuju Riau, khususnya Kota Pekanbaru, selama ini cukup tinggi. Hal itu dikarenakan, Riau dianggap sebagai daerah kaya dan relatif kondusif dari bencana alam. Namun, dampak buruk dari migrasi adalah pertambahan penduduk miskin. Mereka yang datang, tidak memiliki kemampuan untuk diserap dalam dunia kerja. Selain itu, bertambahnya penduduk miskin juga dipengaruhi penurunan harga minyak dunia, serta komoditi perkebunan yang menjadi andalan Riau.

“Pertumbuhan ekonomi juga sedikit melambat dalam empat tahun terakhir, karena pengaruh penurunan harga produk global perkebunan, terutama seperti harga karet, kelapa dan kelapa sawit,” katanya.

Perlu langkah strategis, untuk pengalihan sektor yang terus lesu ke sektor nonmigas maupun sektor pariwisata. Angka kemiskinan di Riau masih lebih rendah, bila dibandingkan angka kemiskinan rata-rata di Pulau Sumatera, yang pada 2018 mencapai 10,15 persen. Dan juga lebih kecil dari tingkat nasional, yang mencapai 9,82 persen. (Ant)

Lihat juga...