Kepala Sekretariat Masjid At-Tin: Pak Harto tak Tergantikan
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Kepala Sekretariat Masjid At-Tin, Jahrudin, menilai Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto, adalah sosok pemimpin bangsa yang sangat istimewa. Pribadinya sederhana dan sangat mengayomi rakyat. Bahkan, menurutnya, saat Pak Harto menjalani roda pemerintahan, begitu terasa keamanan bangsa sangat kondusif. Pembangunan juga merata dan sukses swasembada pangan hingga ekspor beras ke luar negeri.
Pak Harto juga mengajarkan kemandirian dalam menjalani kehidupan. Begitu juga dalam hal beribadah, utamanya pola didik agama, menjadi pondasi yang diterapkan kepada anak-anaknya.
“Pak Harto adalah sosok pemimpin yang sangat bijaksana dan mengayomi rakyat. Dalam kehidupan beragama juga sangat religius. Pribadi Pak Harto sangat istimewa, belum ada pemimpin seperti beliau dan memang tak tergantikan,” kata Jahrudin, kepada Cendana News, Senin (28/1/2019).
Menurutnya, Pak Harto sangat konsisten dalam beribadah. Ini karena pola didik kedua orangtuanya yang agamis dan tegas. Sehingga menjadikan beliau menjadi pribadi religius dan sederhana, memberi nilai hakiki bagi bangsa ini.
Dalam beribadah, sebut dia, Pak Harto sering hadir di Masjid Agung At-Tin, baik salat tarawih di bulan Ramadhan, maupun bulan lainnya. Bahkan, beliau kadang sengaja datang untuk salat Jumat berjemaah di masjid ini. Salat Idul Fitri juga menjadi rangkaian ibadah beliau di masjid ini.
“Kalau salat Jumat di Masjid Agung At-Tin, beliau ditemani putranya. Kalau salat tarawih dan Idul Fitri ditemani semua anak cucunya,” ujarnya.
Ada momen yang Jahrudin selalu ingat, pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk semakin memperbanyak ibadahnya. Salah satunya, yang dianjurkan adalah itikaf atau berdiam diri di masjid.
Pada itikaf itu, Pak Harto berkunjung ke Masjid Agung At-Tin, dan didapat ada jemaah yang tertidur. Namun, Pak Harto melarang pengurus masjid untuk membangunkan jemaah tersebut.
“Jangan dibangunin, biarkan saja dia tidur. Tidur kan juga ibadah,” ujar Jahrudin, menirukan ucapan Pak Harto, kala itu.
Lagi-lagi, Jahrudin menegaskan, Pak Harto adalah sosok pemimpin yang sangat religius dan bijak dalam bertindak, juga menghargai sesama.
Hal ini sangat ia rasakan bersama teman-teman karyawan Masjid Agung At-Tin. Dia juga menyakini, kalau masyarakat Indonesia juga punya penilaian yang sama seperti dirinya.
Setelah Pak Harto wafat pada 27 Januari 2008, Jahrudin mengaku sangat kehilangan Bapak Pembangunan Bangsa. Pesan beliau untuk menjaga dan mengembangkan masjid Agung At-Tin, tentu akan dijalani oleh seluruh pengurus, termasuk Jahrudin.
“Pak Harto berpesan, masjid ini untuk semua umat Islam dan jangan membatasi orang yang mau datang ke sini. Jaga terus masjid dan kembangkan programnya untuk edukasi umat,” katanya.
Meskipun Pak Harto telah tiada, menurutnya masyarakat Indonesia masih banyak yang rindu beliau. Bahkan, jelas dia, saat dimakamkan Pak Harto tetap mendatangkan rezeki untuk masyarakat. Ini terbukti, saat penghantar jenazah Pak Harto ke tempat peristirahatan terakhir di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, banyak yang memanfaatkan ojek menuju lokasi tersebut.
“Ini kan mendatangkan rezeki untuk masyarakat. Meskipun beliau sudah wafat,” ujarnya.
Hingga kini, para tukang ojek tersebut terus mengais rezeki di lokasi tersebut, memberikan layanan transportasi bagi peziarah. Bahkan, menurutnya lagi, para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan ragam produknya mengais rezeki di area komplek Astana Giribangun.
Begitu pula dengan Museum HM Soeharto yang berada di Dusun Kemusuk, Bantul, Yogyakarta. Menurutnya, keberadaan museum itu tidak hanya berperan sebagai tempat edukasi tentang sejarah bangsa. Tapi, juga ikut meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitarnya, utamanya dalam perekonomian.
“Museum Pak Harto mendukung pengembangan usaha warga sekitar. Mereka berjualan ragam sovenir, makanan, oleh-oleh dan transportasi. Ini kan berdampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam doanya, Jahrudin memohon agar almarhum Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto, diterima amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya, dan ditempatkan di Surga oleh Allah SWT.