Biaya Ekspedisi Menjadi Kendala Perajin di Yogyakarta
Editor: Mahadeva
YOGYAKARTA – Tingginya biaya ekspedisi pengiriman ke sejumlah daerah di Indonesia, khususnya wilayah timur, menjadi kendala bagi pelaku UKM kerajinan di DIY. Sementara, potensi pasar produk-produk kerajinan ke sejumlah wilayah Indonesia timur, seperti Papua, Maluku, Sulawesi, sangat potensial.
Hal itu seperti yang dialami perajin celengan bambu asal Yogyakarta, Ameng Suprapto (55). Warga Jalan Gajahmada Gang Sidat, Jagalan, Beji, Purwokinanti, Pakualaman, Yogyakarta itu, mengaku kesulitan menjamah pasar Indonesia timur, yang sebenarnya sangat potensial.
“Permintaan produk dari wilayah Indonesia timur seperti Kalimantan, Sulawesi hingga Papua sebenarnya sangat banyak. Namun kita tidak bisa memenuhi, karena terkendala mahalnya biaya ongkos kirim. Bagaimana tidak, biaya ongkos kirim bisa dua kali lipat lebih besar dari harga produk,” ujarnya kepada Cendananews, Selasa (15/01/2019).
Memasarkan produk baik secara offline maupun online, Suprapto memproduksi berbagai macam jenis kerajinan berbahan bambu. Seperti celengan ukir celengan batik, nampan, jam dinding. Selain memasarkan suvernir, maupun hiasan ke wilayah DIY, ia juga memasarkan hingga ke berbagai daerah di Indonesia secara online.
“Bayangkan saja, biaya kirim ke sejumlah daerah di Indonesia Timur bisa dua kali lipat dari harga produk. Misalnya harga produk hanya Rp1juta, biaya ongkos kirim bisa sampai Rp2 juta. Sehingga kadang konsumen enggan dan membatalkan pesanan. Padahal permintaan order sangat banyak,” keluhnya.
Ia pun berharap, pemerintah dapat menekan biaya ongkos kirim ke sejumlah wilayah, terutama ke Indonesia timur. Terlebih beberapa waktu belakangan justru tersiar kabar akan adanya kenaikan biaya ekspedisi barang. “Dengan banyaknya infrastruktur yang dibangun, mestinya bisa menurunkan biaya ongkos kirim ke berbagai daerah. Karena ini menjadi kendala banyak perajin. Tidak hanya saya saja. Harapannya, ya, bagaimana agar biaya ongkos kirim bisa murah,” pungkasnya.