Tantangan Era Transformasi Digital Revolusi Industri 4.0

Editor: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Staf Ahli Kebijakan Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia Dedy Permady, Ph.D, menyebutkan, saat ini dunia tengah dihadapkan pada tiga transformasi dalam revolusi industri 4.0.

“Saat ini ada tiga transformasi yang terjadi di dunia dan harus segera kita respon, yakni transformasi physical, biological, serta tranformasi digital yang akan kita diskusikan hari ini,” ujarnya saat menghadiri acara Gelar Wicara dalam peluncuran produk inovasi, di Universitas Negeri Malang, Rabu (21/11/2018).

Disebutkan Dedy, Indonesia merupakan negara yang sangat aktif menggunakan instrumen digital termasuk media sosial. Data yang ada, terdapat 143,2 juta jiwa pengguna internet di Indonesia. Kemudian pengguna facebook 115 juta manusia dan 95 juta jiwa pengguna Instagram.

Menurutnya, angka tersebut cukup besar jika dibandingkan negara lainnya dan menjadi salah satu peluang bagi masyarakat Indonesia dalam penggunaan internet, khususnya media sosial. Salah satu peluang yang muncul karena era ini adalah terkait ekonomi digital.

Ketika berbicara tentang ekonomi digital, pemerintah telah menargetkan akan ada transaksi elektronik sebanyak 175 million US dollar sampai dengan tahun 2019. Bahkan di Asean, ada perkiraan yang menyebutkan bahwa hingga tahun 2020 nanti, transaksi elektronik atau e-commerce kita di Asean mencapai 200 million US dollar.

“Kalau transaksi tersebut tercapai, maka akan menyumbang pada perbaikan ekonomi di Indonesia. Bahkan hingga 2022 nanti, akan ada penciptaan lapangan pekerjaan dari sektor e-commerce terutama dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” sebutnya. Karena adanya perubahan digital inilah, kemudian ada program UMKM Go online.

Selain itu, Indonesia juga punya peluang besar terkait bonus demografi. Tapi hal ini ibarat pisau bermata dua. Bisa sangat bermanfaat, tapi bisa juga sangat merugikan kalau tidak bisa mengatur dengan sebaik-baiknya.

“Itu adalah potensi-potensi yang sangat luar biasa di era transformasi digital seperti sekarang ini,” ucapnya.

Hanya saja, masalahnya, menurut Dedy, di balik potensi yang besar tersebut, terdapat pula tantangan yang sangat luar biasa besar yang tengah dialami sekarang. Salah satu tantangan yang kini menjadi fokus Kemenkominfo adalah terkait Sumber Daya Manusia (SDM) terutama talenta digital.

“Beberapa waktu yang lalu saya menulis opini di salah satu media terkait dengan kesenjangan talenta digital. Opini tersebut sebenarnya produk kegalauan saya karena perubahan digital ini, tidak diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia yang ada,” terangnya.

Salah satu ketidaksiapan tersebut, lanjutnya, yakni meskipun di Indonesia penggunaan internet dan media sosial sangat luar biasa banyak, tapi apa mereka memang benar-benar sudah siap, misalnya jika ada banyak hoax apa yang harus mereka lakukan. Belum lagi jika terjadi cyber bullying.

“Di Indonesia sebanyak 41-50 persen, remajanya pernah mengalami cyber bullying. Jadi remaja kita separuhnya pernah mengalami cyber bullying,” ungkapnya. Itu, tandasnya, salah satu yang menandakan ketidaksiapan SDM.

Lebih lanjut disampaikan Dedy, jika dilihat dari data-data yang ada menunjukkan bahwa ada kesenjangan talenta digital di Indonesia. Bank Dunia, dengan merujuk pada penelitian, mereka memprediksi pada tahun 2015-2030 akan ada kebutuhan talenta digital yang skill dan semi skill sebanyak 9 juta.

“Artinya dalam 15 tahun, kita harus menyiapkan 9 juta jiwa. Jadi dalam setahun kita harus menyiapkan 600 ribu orang yang melek digital yang punya kualifikasi skill dan semi skill. Itu jumlah yang sangat banyak,” pungkasnya.

Lihat juga...