Pesona Khazanah Budaya Maluku Utara di TMII

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Anjungan Maluku Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menampilkan Rumah Adat Sasa’du atau rumah adat suku bangsa Sahu di Halmahera Barat.
Rumah Sasa’du berbentuk rumah panggung, yang ditopang sejumlah tiang dan dinding berbahan kayu. Bertangga dua terletak di sisi kiri dan kanan, serta beratap daun Injuk. Di kolongnya terdapat empat Diego atau dipan bambu untuk pertemuan, rapat dan acara kebesaran.
“Rumah Sasa’du ini adalah rumah adat suku Sahu dari Halmahera Barat, salah satu suku asli Maluku Utara. Rumah ini masih dilestarikan dan sampai sekarang masih dipertahankan tradisinya,” kata pemandu Anjungan Maluku Utara TMII, Muhammad Aris, kepada Cendana News, Minggu (25/11/2018).
Di TMII, rumah adat Sasa’du digunakan untuk memamerkan khazanah budaya Maluku Utara. Seperti alat musik tradisional, yaitu tifa, gong, tameng, dan daun woka yang dikenakan saat menari Soya-Soya.
“Daun woka dikeringkan, lalu lapisan kertas empat warna, yaitu kuning, merah, hijau dan putih dengan warna dasar hitam. Dasarnya hitam, karena kita pengaruh Portugal,” ujar Doris ,demikian panggilan Muhammad Aris.
Anjungan Maluku Utara TMII, Jakarta, Minggu (25/11/2018). -Foto: Sri Sugiarti
Ia mengisahkan, pada 1570-1583 terjadi sebuah penyerbuan ke markas Portugis di Benteng Kastella, Ternate, oleh segenap rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Babullah.
Penyerbuan ini karena terbunuhnya Sultan Khairun, ayah dari Baabullah yang dijebak oleh Portugis di Benteng Kastella. Ini bukan sekadar penyerangan, tapi lebih kepada upaya penjemputan jenazah Sultan Khairun.
Tetapi, pada kenyataannya penjemputan ini beralih menjadi kebangkitan perjuangan rakyat Kayoa, Maluku Utara, terhadap penjajah Portugis pada akhir abad 16.
“Jadi, tari Soya-Soya adalah tarian asli masyarakat Ternate. Tarian ini sebagai ungkapan kebanggaan terhadap perjuangan pahlawan mengusir penjajah Portugis,” ungkapnya.
Anjungan ini juga memamerkan benda-benda tradisional khas Maluku Utara, kerajinan tangan, permainan tradisional, hasil bumi dan lainnya.
Dipamerkan pula ragam busana daerah khas Maluku Utara. Di antaranya, busana adat Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, Galelo, dan lainnya.
Di anjungan ini juga dipamerkan Topeng  Cokaiba dan Faten. Dijelaskan Doris, topeng Cokaiba dan Faten adalah tradisi dilaksanakan saat Maulud Nabi Muhammad SAW, oleh masyarakat gamrage atau tiga negara bersaudara, yaitu Weda, Patani, dan Maba.
Model topeng Cokaiba ini mewakili tiga wilayah, yaitu Cokaiba Yeye sebagai kepala dari semua cokaiba yang berasal dari Maba (Halmahera Timur).
Pemandu Anjungan Maluku Utara TMII, Muhammad Aris. -Foto: Sri Sugiarti
Cokaiba Goma dari Patani dan Cokaiba loyeng dari Weda atau Halmahera Tengah.
Faten atau berpasangan, jelas dia,  adalah tradisi yang sarat nilai filosofi fagogoru, di mana tuan rumah dan tamu yang diundang saling menjamu, diiringi prosesi dzikir semalam suntuk. Dengan disuguhi aneka makanan dan minuman.
“Topeng Cokaiba, maknanya pada bulan maulud merayakan pesta adat syukuran mengusir roh-roh halus, supaya keselamatan masyarakat Maluku Utara yang mau usaha atau melaut tidak diganggu, dan hasil panen melautnya bagus. Dan Weda, Patani serta Maba adalah pahlawan,” tandasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, Maluku Utara adalah provinsi baru di wilayah timur Indonesia. Ibu Kota provinsi adalah Sovivi menggantikan Ternate sebagai provinsi, sebelumnya.
Provinsi Maluku Utara terbentuk berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 46 Tahun 1999. Pada 4 Oktober 1999, ditetapkan sebagai provinsi tersendiri, hasil pemekaran dari provinsi Maluku. Dalam pelestarian budaya, Maluku Utara tampil di area anjungan terpadu TMII.
Maluku Utara terbagi ke dalam tujuh kabupaten dan dua kotamadya. Yaitu, kabupaten Halmahera Barat, Selatan, Tengah, Timur, dan Halmahera Utara dan kabupaten pulau Morotai. Sedangkan Kotamadyanya, yaitu, Ternate dan Tidore.
Ada pun luas wilayahnya mencapai sekitar 140.255,32 kilometer persegi. Sebagian besar adalah perairan laut, 106. 977, 32 kilometer persegi atau 76,27 persen. Sisanya seluas 33.278 km2 atau 23,73 persen adalah daratan.
Maluku memiliki pulau besar terdiri atas lima pulau. Yakni, Halmahera, Cibi, Talabu, Bacan dan Morotai. Dua pulau yang sudah terkenal sejak dari dahulu sebagai pusat pemerintahan kesultanan adalah Ternate dan Tidore.
Di Ternate terdapat museum yang menyimpan berbagai peninggalan kesultanan di masa lalu. Serta perlengkapan militer peninggalan Portugis dan Belanda.
Ada pun koleksi tersohor adalah mahkota Sultan Ternate, yang hanya dipamerkan pada acara tertentu. Mahkota ini dipercaya dapat menenangkan Gunung Gamalama yang sedang aktif.
Museum peninggalin Kesultanan Ternate dibangun pada 1250. Selain itu, juga terdapat beberapa benteng peninggalan para pendatang. Seperti benteng Sentosa peninggalan Belanda, benteng Oranye dari Melayu, benteng Kalumata, benteng Talucco peninggalan Portugis, dan benteng Takome yakni Belanda.
Provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. Hasil perkebunan berupa rempah-rempah, yaitu cengkih,  pala, kopra, kakao, jagung dan ubi kayu.
“Pada abad ke-16, rempah-rempah jadi primadona bangsa Eropa, seperti Portugis, Inggris dan Belanda. Mereka datang ke Maluku Utara,” kata Doris.
Sumber alam lainnya adalah kekayaan laut berupa ikan. Ada pun hasil tambang, seperti emas, nikel, mangan, tembaga, kaolin, magnesit dan beragam batu mulia.
Dalam keagamaan, sebelum masa penjajahan, Maluku Utara merupakan wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara.
“Dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha atau Kesultanan Empat Gunung di Maluku. Yaitu, Kesultanan Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore,” jelasnya.
Suku bangsa yang mendiami tempat ini, antara lain suku Ternate, Tidore, Makian, Bacan, Galela, Loloda, Tobelo, Tobaru, Kao, Jailolo, Module, Pagu, Buli, Patani, Maba, Sawai, Wayoli, dan suku bangsa Sahu.
Dalam ragam budaya adalah ragam tarian Lalayan, Tide-Tide, Soya-Soya, Tidak, dan seni musik tifa.
Menurutnya, TMII sebagai wahana pelestarian budaya sangat membantu mempromosikan khazanah budaya Maluku Utara.
“Pelestarian budaya cukup bagus, dari mereka tidak tahu menjadi tahu budaya Maluku Utara, setelah mereka berkunjung ke anjungan ini,” ujarnya.
Apa lagi, Maluku Utara sering tampil di acara yang digelar di TMII. Seperti memeriahkan HUT TMII pada tujuh tahun lalu, menampilkan 200 penari Soya-Soya dari semua Diklat seni anjungan TMII.
“Sebanyak 200 penari Soya-Soya kolaborasi semua diklat  seni anjungan TMII. Ini menakjubkan, tapi ritme musik asli khas Maluku Utara. TMII semoga selalu jaya untuk melestarikan budaya bangsa,” tutupnya.
Lihat juga...