Pembayaran Non Tunai di Bakauheni Picu Antrian

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Penerapan sistem pembayaran nontunai (cashless), menggunakan uang elektronik, sudah diberlakukan di Pelabuhan Bakauheni, Merak serta pelabuhan Ketapang, Gilimanuk.

Penerapan sistem tersebut di pelabuhan Bakauheni, melibatkan himpunan bank negara diantaranya Bank BNI, Bank BRI dan Bank Mandiri. Meski diberlakukan sejak 15 Agustus 2018, sejumlah kendala masih muncul di lapangan.

Para pengguna jasa penyeberangan, masih belum memiliki uang elektronik. Imbasnya, calon penumpang kesulitan mendapatkan tiket. Dampaknya, terjadi antrian kendaraan roda dua, karena calon penumpang harus membeli kartu uang elektronik.

Andri Dwitanto, koordinator petugas penjualan kartu elektronik – Foto Henk Widi

Andri Dwitanto, komandan regu petugas penjualan uang elektronik, dari CV Hamer Multi Talenta menyebut, pada hari normal, hanya satu loket penjualan tiket dibuka. Kondisi tersebut membuat antrian kendaraan roda dua memanjang hingga dua jalur.

Meski sudah ada sosialisasi terkait penggunaan tiket elektronik, masih ditemukan pengguna jasa belum memiliki uang elektronik. “Sebagian pengguna jasa dengan kendaraan roda dua yang berasal dari Pulau Jawa dan akan kembali dari Sumatera, umumnya sudah memiliki uang elektronik di dalam kartu. Tetapi ada yang harus mengisi ulang di loket pembelian, padahal pengisian ulang bisa disediakan di bank, serta sejumlah merchant toko waralaba tertentu,” terang Andri Dwitanto.

Untuk kendaraan roda dua, harga tiket perkendaraan untuk kapal roll on roll off (Roro) seharga Rp51.000. Bagi sejumlah pengguna jasa yang belum memiliki uang elektronik, petugas sudah menyediakan kartu uang elektronik perdana, berikut isi ulang. Sistem tersebut masih harus mempergunakan uang cash, memberikan kartu baru yang masih dijual dengan alat Electronic Data Capture (EDC).

Pantauan Cendana News, rata-rata pengendara kendaraan roda dua membutuhkan waktu lebih dari satu menit untuk membeli tiket. Calon penumpang yang belum memiliki uang eletronik, bisa lebih lama mengantri, karena harus membeli kartu baru. “Sistem peralihan dari uang tunai menjadi nontunai baru Agustus diterapkan, masih banyak warga yang belum mengetahui, jadi kami ikut membantu memperlancar menyediakan uang eletronik,” beber Andri Dwitanto.

Hendra, salah satu calon penumpang asal Tanggamus Lampung, mengaku baru pertama kali menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni saat sistem nontunai diberlakukan. Sebelumnya, ia masih menyeberang dengan sistem pembayaran tunai. Sistem baru tersebut, meski sudah lama disosialisasikan, warga masih banyak yang belum memiliki kartu uang elektronik. Diharapkan, loket penjualan uang elektronik bisa diperbanyak di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.

Humas PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Syaifullail Maslul, menyebut, penerapan pembayaran nontunai masih diterapkan secara fleksibel. Hal itu untuk memberi kenyamanan pengguna jasa. Pelayanan pembelian tiket elektronik diterapkan situasional agar tidak terjadi antrian. Saat antrian memanjang, petugas loket langsung membuka loket di gerbang satu, disamping gerbang sembilan untuk pembelian tiket kendaraan roda dua.

Lihat juga...