Peneliti: Bahasa-bahasa Daerah di Papua Terancam Punah

JAYAPURA — Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat menggelar seminar sehari perencanaan perlindungan bahasa-bahasa daerah Papua di Grand Abe Hotel, Kota Jayapura, Selasa (16/10/2018).

Seminar itu merupakan kerja sama antara Balai Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta, Universitas Cenderawasih dan Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat dengan mengusung tema “Membangun Papua Melalui Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah”.

“Kegiatan ini melibatkan sejumlah komponen dan sumber daya manusia karena bahasa daerah sebagai salah satu kekayaan budaya harus lebih diperhatikan,” kata Suharyanto, salah satu peneliti senior dari Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat.

Menurut dia, kondisi bahasa-bahasa daerah di Papua perlu diperhatikan karena vitalitas dan karakteristik bahasa lokal yang ada di Papua hampir sama dan terancam punah, sebagaimana penelitian atau sampel data yang diambil dari penggunaan bahasa Nafri pada 2002, bahasa Tobati pada 2003 dan bahasa Sentani pada 2009 serta bahasa Skouw dan Mosso pada 2010.

“Kalau kita tidak lakukan upaya perlindungan yang sungguh-sungguh maka pada generasi ketiga, bisa dipastikan tidak lagi mendengar bahasa daerah itu di Jayapura terutama pada kasus yang kami lakukan penelitian,” katanya.

Kondisi ini jika dibandingan dengan bahasa daerah Papua lainnya, punya karakteristik bahasa hampir sama dan kemungkinan besar juga berlaku pada bahasa daerah lainya yang ada di tanah Papua.

Lebih lanjut dia mengatakan bahasa daerah sebetulnya selain sebagai indentitas sebuah masyarakat, bahasa daerah juga sebagai penyimpan khazanah kekayaan budaya yang dimiliki.

Ketika bahasa daerah sebagai penyimpan khazanah hilang, maka yang hilang tidak hanya bahasanya tapi budaya yang ada dibalik itu.

Sementara kebudayaan itu sendiri, kata dia, terbentuk dalam waktu yang cukup lama bisa beribu tahun atau berabad-abad lamanya, sehingga tidak boleh dibiarkan tergerus oleh perkembangan zaman, apalagi ilmu pengetahuan dan teknologi informasi kian cepat berubah sesuai dengan kebutuhan.

“Oleh karena itu melalui forum atau seminar ini kita berusaha untuk mengajak semua pemangku kepentingan untuk mencoba duduk bersama sama bagaimana bahasa-bahasa daerah di Papua sebagai khazanah penyimpan warisan budaya, bisa diselamatkan kepada generasi yang akan datang,” katanya.

Tujuannya, mengambil nilai yang baik tanpa melihat pengaruh yang ada dari luar, karena sebagai individu dan masyarakat, manusia tidak bisa hidup sendiri.

Suharyanto tidak menampik jika ada pendapat yang mengatakan bahasa Indonesia sebagai salah satu bagian yang menyebabkan bahasa-bahasa daerah di Papua terancam punah atau bahkan ada yang sudah punah, namun hal itu tidak bisa dihindari sebagai suatu kebutuhan untuk belajar dari suatu kemajuan sebagai bahasa pengantar suatu peradaban.

“Memang betul bahwa saat ini terpaan bahasa Indonesia melalui teknologi informasi, televisi, radio dan internet, serangan sinetron yang masuk sampai ke relung-relung kamar anak kita,” katanya.

Namun, cara yang paling efektif untuk melindungi dan melestarikan bahasa daerah adalah melalui pewarisan, karena dengan mewariskan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, sudah pasti bahasa daerah akan terus terjaga eksistensinya.

Suharyanto juga menambahkan bahwa kosa kata dalam kamus bahasa Indonesia sudah ada yang mengadopsi dari bahasa-bahasa daerah di Papua, hanya jumlah pastinya dia belum tahu.

Seminar bahasa itu dibuka resmi dan dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari sejumlah instansi terkait di Papua termasuk akademisi dari Universitas Cenderawasih Nomensen Mambraku. (Ant)

Lihat juga...