Pasar Ekspor Mebel Rotan Trangsan Sukoharjo Sepi Permintaan

Ilustrasi - Dok CDN

SOLO — Produksi kerajinan mebel rotan dari Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang sempat diekspor kini masih tetap diminati pelanggan meski hanya melayani pasar lokal.

“Mebel rotan produksinya berupa kursi kafe dan tempat tidur sempat diekspor ke Jerman dan Afghanistan pada 2015, tetapi sekarang hanya melayani pasar lokal saja,” kata Erlinda (28) seorang pengrajin yang juga pemilik “Rakha Rotan” asal Desa Trangsan Sukoharjo, di sela mengikuti pameran UMKM di Taman Balekambang Solo, Minggu.

Menurut dia, bisnis mebel rotan merupakan bisnis turun-temurun dari orang tuanya sejak 1990 dan diteruskan bersama suaminya mulai 2015 hingga sekarang.

“Mebel rotan yang sempat diekspor ke Jerman dan Afghanistan antara lain kursi kafe yang harganya mencapai Rp600 ribu per unit, dan tempat tidur ditawarkan Rp5 juta per set,” katanya.

Namun, kata dia, bisnisnya kini hanya melayani pasar lokal saja, baik melalui penjualan online, pameran, maupun memasok ke toko-toko di Solo Raya, sedangkan pasar ekspor sedang sepi permintaan.

Erlinda mengatakan produksi kerajinan rotannya antara lain kursi tamu, kursi teras, ayunan bayi, boncengan matic, tudung saji, kursi makan, ayunan gantung, penyekat ruangan, dan rak serbaguna. Jika permintaan pasar lagi sepi seperti sekarang ini, hasinya rata-rata mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan.

Namun, jika sedang banyak pesanan dari pelanggan seperti pada bulan puasa hingga menjelang Lebaran omzet rata-rata bisa mencapai Rp18 juta per bulan.

“Kemampuan produksi kami dengan enam tenaga kerja rata-rata mencapai 600 hingga 700 buah per bulan. Jika banyak pesanan lebih dari 1.000 buah biasanya menambah tenaga kerja dan kerja lembur untuk melayani konsumen,” kata Erlinda.

Menyinggung soal bahan baku rotan, kata Erlinda, masih mudah dicari di pasaran, meski harus mendatangkan dari luar Jawa.

Harga kerajinan rotan asal Desa Trangsan bervariasi, misalnya, ayunan bayi dijual hingga Rp150 ribu per buah, goncengan matic atau untuk sepeda motor/sepeda ontel dijual Rp85 ribu per buah, tudung saji Rp65 ribu per buah, keranjang ayunan Rp60 ribu per buah, dan tempat air meneral Rp70 ribu per buah.

Menurut dia, selama mengikuti kegiatan pameran UMKM di Solo hasilnya lumayan banyak orderan dari para pengunjung. Pameran ini, merupakan salah satu kesempatan dalam memasarkan produksinya, dengan rotan asli kualitas terjamin dan harga merakyat.

“Desa Trangsan memang daerah sentra kerajinan rotan di Sukoharjo khususnya dan Jateng pada umumnya, karena hampir semua warganya sebagai pengrajin rotan. Satu kampung Trangsan merupakan pengrajin rotan,” kata Erlinda. [Ant]

Lihat juga...