Kota Tua Padang, Jejak Sejarah di Bumi Minangkabau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PADANG — Potensi wisata yang di Kota Padang, Sumatera Barat, tidak hanya terkenal dengan pantai dan kulinernya saja. Di daerah Berok Nipah Kecamatan Padang Barat yang berdekatan dengan Batang Arau, terdapat sebuah kota tua, yang memiliki nuansa zaman tempo dulu.

Kota tua menjadi salah satu ikon wisata sejarah yang cukup diminati. Hal ini dikarenakan saat berada di antara bangunan-bangunan yang masih terlihat asli, membuat pikiran berada di zaman dulu kala.

Ketua ASITA Sumatera Barat Ian Hanafiah. Foto: M. Noli Hendra

Ada beberapa bangunan yang cukup terkenal untuk didatangi, seperti Padangsche Spaarbank yang berdiri pada tahun 1908. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai kantor bank tabungan Sumatera Barat dulunya.

Juga ada Gedung Geo Wegry and Co yang berdiri sejak tahun 1926, gedung ini adalah sebuah perusahaan dagang yang terkenal pada masanya. Lalu juga ada Masjid Muhammadan, peninggalan umat muslim keturunan India ketika dulunya berdagang ke Kota Padang, yang dibangun pada tahun 1843 dan merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Selanjutnya juga ada Kalenteng See Hien Kiong yang dibangun pada tahun 2010 pasca gempa dahsyat 2009 silam.

Memang sebuah potensi kota tua layak untuk dijadikan sebagai wisata jejak sejarah yang ada di bumi Minangkabau. Meski dikenal dengan kawasan etnis tionghoa dan India, soal bahasa sehari-hari masyarakat di sana sangat kental berbahasa daerah atau bahasa Minang.

Terkadang memang terlihat heran, ketika etnis tionghoa yang terdengar dan terlihat berbahasa Mandarin, kesehariannya malah begitu kental berbahasa Minang. Namun apabila berada di hari-hari besarnya, kawasan kota tua ini dihiasi nuansa-nuansa tionghoa, dan akan banyak wisatawan dari berbagai negara datang ke daerah tersebut.

Sementara untuk etnis India yang bertetangga dengan etnis tionghoa, juga memiliki sejumlah tradisi yang tetap dilaksanakan. Salah satunya ialah serak gulo (lempar gula). Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Apabila acara dimulai, seluruh etnis India datang ke kawasan Pondok, atau tepatnya ke Masjid Muhammadan untuk mengikuti tradisi serak gulo tersebut.

Dengan memiliki segala tempat yang bersejarah di kota tua Padang itu, Asosiasi Pengusaha Perjalanan Wisata (ASITA) Sumatera Barat juga telah menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu tempat tujuan wisata.

Ketua ASITA Sumatera Barat, Ian Hanafiah mengatakan, objek tersebut memiliki daya tarik yang kuat untuk dikunjungi. Setidaknya setiap rombongan yang menggunakan jasa tour and travel yang bergabung di ASITA, selalu membawa rombongan melalui kota tua.

Ia menyebutkan, momen yang sering ia gunakan untuk membawa wisatawan ke kawasan kota tua, yakni di waktu senja hingga malam harinya. Hal ini dikarenakan suasana akan telihat indah di waktu senja. Apalagi bangunan-bangunan yang ada masih diterangi oleh lampu di sepanjang pinggir Batang Arau.

Untuk menjelajah lebih asyik berjalan kaki dan terbilang cukup luas, mulai dari kawasan perdagang rempah-rempah di Padang yakni Pasar Gadang, Kampung Pondok, Batang Arau, hingga ke Jambatan Siti Nurbaya yang melengenda.

Saat ini wisata kota tua juga menjadi Kawasan Wisata Terpadu (KWT) di Kota Padang.

Lihat juga...