‘Dear Nathan Hello Salma’ Diharap Jadi Artefak Emosional Remaja 

Editor: Koko Triarko

Bagus Bramanti -Foto: Akhmad Sekhu
JAKARTA – Bagus Bramanti ,termasuk penulis skenario muda andal. Karya-karya skenarionya, baik film televisi (FTV) maupun film layar lebar, sukses secara komersial maupun menang dalam berbagai festival. Seperti ‘Pintu Harmonika’ (2013), ‘Love and Faith’ (2015), ‘Mencari Hilal’ (2015), ‘Talak’ 3 (2016), ‘Kartini’ (2017), ‘Dear Nathan’ (2017), dan ‘Yowis Ben’ (2018).
Kini, skenario film terbaru yang digarap Bagus, yaitu film sekuel Dear Nathan yang bejudul  Dear Nathan Hello Salma. Sebuah film produksi Rapi Films yang berkisah lebuh seru dan matang tentang kelanjutan hubungan antara Nathan dan Salma serta permasalahan dengan sekolah dan keluarganya.
“Film pertama dengan film sekuelnya tentu punya pesonanya masing-masing, yakni film pertama memang bicara Nathan dan kerapuhan keluarganya, di mana Nathan yang menjadi obyek yang diselamatkan, sedangkan film sekuelnya Nathan sudah lebih matang pemikirannya, hubungan dengan bapaknya juga lebih baik,“ kata Bagus Bramanti, usai press screening ‘Dear Nathan Hello Salma’ di Allegra, Epiwalk, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018) malam.
Bagus membeberkan, rata-rata memang anak SMA punya masalah tekanan dari orang tua, dengan segala permasalahannya. “Penekanannya jangan lari dari masalah, dengan masalah apa pun harus berani menghadapinya,“ bebernya.
 Menurut Bagus, film ini sebenarnya fokus pada dua masalah, yaitu Nathan dengan Salma, dan Nathan dengan bapaknya atau keluarganya. “Highlight yang terpenting di film ini, apa pun cinta dibenturkan dengan masalah keluarga, kalau keluarga kita beres-beres saja meskipun beda pendapat, pilih keluarga dululah, karena bagaimana juga mereka yang paling pertama mencintai kita,“ paparnya.
Dalam kehidupan nyata, lanjut Bagus, bukan masalah nanti hasilnya sesuai harapan atau tidak, tapi untuk menghadapi benar atau tidak. “Kalau kita punya keluarga yang tidak destruktif, buat apa kita meninggalkan keluarga, bahwa kemudian nanti ada bonus di situ, itu karena reward atas proses yang benar,” ujarnya.
Bagus berharap, film ini menjadi artefak emosional remaja, bukan hanya film yang dinikmati dengan sambil lalu, tapi film yang menjadi perekam zaman. “Saya harapkan film ini menjadi artefak remaj,a bahwa pernah ada momen di Indonesia remaja punya permasalahan sebagaimana yang tergambar dalam film ini, karena kita berpikir bagaimana caranya film ini bisa bertahan selama mungkin, bahkan ketika prembuatnya mati, filmnya tetap hidup selama mungkin, “ harapnya.
Buku dengan filmnya ada sedikit perbedaan, kalau di buku lebih banyak pada cerita Rebecca, karena ada beda dimensi dalam komunitas diceritakan dengan utuh, tapi karena dibatasi durasi, jadi dalam film dipangkas.
“Dalam film lebih fokus pada tema masalah anak dengan orangt uanya, yang rasanya membuat film ini bunyi sampai memunculkan keharuan,“ terangnya.
Kalau ada perubahan, Bagus selalu membicarakannya dengan produser, sutradara dan penulis novelnya. “Tugas saya mengadaptasi, menjaga kemurnian cerita di mata pembaca, terutama penulis novelnya, karena penulis novel tentu paling tahu sebenarnya apa yang menjadi magnet ceritanya,” tegasnya.
Sebagai penulis skenario adaptasi, Bagus tidak membuat intepretasi baru, tapi dari yang sudah ada untuk kemudian diperdalam. “Kita mengubah dari yang sudah ada menjadi bernilai,“ pungkasnya.
Lihat juga...