PLTA Batangtoru Tidak Menggangu Habitat Orangutan

Ilustrasi orangutan - Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan, tidak akan mengganggu kelestarian orangutan.

“Tim saya saat ini sedang di lokasi untuk mengidentifikasi dampak pembangunan (PLTA Batangtoru) terhadap orangutan,” kata Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno, Selasa (11/9/2018).

Wiratno menegaskan, penyelamatan orangutan di Tapanuli, Sumatera Utara, menjadi fokus perhatian pemerintah. Hal tersebut seperti diinstruksikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Penyelamatan orangutan menjadi fokus pemerintah, dengan dibentuk tim khusus bersifat permanen untuk memantaunya. Sementara, lokasi rencana pembangunan PLTA Batangtoru, berada di areal penggunaan lain (APL), yang berarti berada di luar kawasan hutan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 15 tahun, oleh peneliti dari Balai Litbang LHK, Aek Nauli, kepadatan orangutan di bakal lokasi pembangunan PLTA Batangtoru rendah. Hanya sekira 0,41 individu per kilometer persegi. Orangutan lebih banyak ditemukan di tempat yang memiliki ketinggian di atas 600 meter dari permukaan laut. “Tim kami akan melakukan pengecekan di sekitar rencana lokasi pembangunan PLTA,” tambahnya.

KLHK membentuk tim khusus yang bersifat permanen di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara. Tim akan memantau dampak rencana pembangunan PLTA Batangtoru, juga pembangunan lain yang sudah berjalan selama ini. Tim dibentuk dengan melibatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan Unit XI Sumatera Utara, dan pihak-pihak terkait. “Harapan kami dampak pembangunan PLTA bisa terminimalkan,” katanya.

Wiratno menyatakan, terdapat kawasan hutan cukup luas yang menjadi habitat orangutan Tapanuli. Selain Cagar Alam Dolok Sibual-buali, ada juga Cagar Alam Dolok Tinggi Raja. Selain itu, ada lokasi Suaka Alam, yang saat ini sedang dalam proses penetapan. Saat ini, kawasan hutan di ekosistem Batangtoru secara umum masih sangat baik. Sementara, PLTA merupakan salah satu solusi penyediaan energi listrik yang paling bersih. PLTA, akan ikut menjaga kawasan hutan yang membutuhkan pasokan air secara berkesinambungan.

PLTA Batangtoru termasuk Infrastruktur Strategis Ketenagalistrikan Nasional dan menjadi bagian dari Program 35.000 Mega Watt (MW). PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) yang membangun PLTA tersebut, menggunakan teknologi yang didesain irit lahan, yakni memanfaatkan badan sungai seluas 24 hektare, dan lahan tambahan di lereng yang sangat curam seluas 66 hektare, sebagai kolam harian untuk menampung air.

Air kolam harian, akan dicurahkan melalui terowong bawah tanah yang akan menggerakkan turbin penghasil tenaga listrik sebesar 510 MW. Dari izin lokasi seluas 6.500 hektare yang diberikan untuk survei dan studi lapangan, PLTA Batangtoru hanya memerlukan 122 hektare. Lahan tersebut sudah termasuk untuk tapak bangunan dan genangan air. Berdasarkan kajian itu, PLTA Batang Toru membebaskan lahan seluas 650 hektare dan hanya akan membuka lahan sesuai keperluan fasilitas yang dibutuhkan. (Ant)

Lihat juga...