Morowali Utara Canangkan Gerakan Menanam Sagu
KOLONODALE – Bupati Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Aptripel Tumimomor, menanam sagu di Desa Sampalowo. Penanaman tersebut, menandai pencanangan gerakan menanam sagu, untuk melestarikan tanaman yang mulai ditinggalkan warga tersebut.
Pencanangan menanam sagu, untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Bersama sejumlah warga dan pejabat Pemkab Morut, Bupati Aptripel, menanam sagu di lahan milik seorang warga. Penanaman di lahan satu hektare tersebut, diharapkan dapat dilanjutkan warga lain, yang memiliki lahan.
“Kalau ada lahan rawa yang tidak bisa ditanami padi, saya minta untuk ditanami pohon sagu saja, agar sagu kembali menjadi tanaman andalan dan sumber pangan penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan diversifikasi sumber pangan masyarakat,” ujar Ipe, panggilan akrab Aptripel, Jumat (18/9/2018).
Ipe menyebut, di awal Agustus 2018 lalu, Dia bersama sejumlah kepala desa di Kecamatan Petasia Barat, yang selama ini menjadi derah penghasil sagu di Morowali Utara, mengikuti Seminar Sagu Asean ke-4 di Riau, Pekanbaru. “Dari situ, para kepala desa ini kembali disadarkan tentang pentingnya sagu sebagai salah satu sumber pangan penting bagi masyarakat bahkan bisa diandalkan sebagai sumber mata pencaharian untuk memingkatkan kesejahterana penduduk ke depan,” tandasnya.
Diharapkan, pengembangan sagu tersebut muncul dan bergerak dari masyarakat bawah. Sementara pemerintah selaku pendamping, akan memberikan bantuan berupa pendampingan teknik budidaya, pengolahan sagu menjadi berbagai jenis bahan makanan yang disukai dan dibutuhkan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Morowali Utara, Zulsofyan mengatakan, berpuluh-puluh tahun lalu, sagu merupakan sumber makanan pokok sebagian besar rakyat Morowali Utara. “Namun seiring perkembangan zaman, sagu mulai ditinggalkan warga karena menganggap bahwa orang yang makan sagu itu adalah orang miskin, orang yang susah hidupnya. Padahal padangan tersebut sangat keliru. Karena itu, kami terus melakukan sosialisasi, agar pemahaman seperti ini ditinggalkan,” ujarnya.
Pengembangan sagu, mempunyai tujuan untuk meningkatkan diversifikasi pangan. Hal itu dibutuhkan untuk peningkatan ketahanan pangan nasional, disamping padi, jagung dan kedelai. Dari segi penyimpanan, sagu termasuk bahan pangan yang menyimpannya tidak membutuhkan gudang seperti beras, dan bisa bertahan lama. “Karena itu kami terus mendorong masyarakat yang memiliki lahan berair, tidak perlu memaksakan diri untuk menanam padi, kalau memang sulit diolah, tetapi ditanami sagu saja,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga terus menyosialisasikan teknik pengolahan sagu menjadi bahan pangan yang variatif, disukai warga, serta memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein serta gizi masyarakat. Termasuk memberi bantuan alat pengolahan bahan makanan dari sagu. Sosialisasi diversifikasi produk bahan makanan dari sagu ini penting karena selama ini, orang Morowali Utara makan sagu umumnya hanya dalam bentuk makanan tradisional yang disebut dui’. Yaitu sagu disiram air mendidih, hingga berbentuk lem lalu dimakan bersama ikan dan sayur-mayur berkuah. (Ant)