Kampung Adat Nggela, Mosaik Jaman Megalitik
Editor: Mahadeva WS
ENDE – Perkampungan Adat Nggela, terletak di kaki gunung Kelibara. Tepatnya di Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi NTT.
Kampung tersebut, merupakan perkampungan tradisional, yang dibangun sejak ratusan tahun silam, dan masih bertahan hingga saat ini. Kampung adat tersebut memiliki 17 Mosalaki atau pemangku adat.
Di perkampungan adat Nggela, berdiri 14 Sa’o atau rumah adat suku. Kemudian ada pula rumah pendukung (Poa Paso) serta rumah warga. Semua rumah adat dibangun dengan konstruksi rumah panggung beratap ilalang yang berbentuk kerucut. Perkampungan adat tersebut terbagi dalam empat zona atau dusun.
Di bagian utara, terdapat zona Dekoghele, di bagian barat ada zona Bhisu One, di sebelah timur terdapat zona Mbiri dan di bagian selatan perkampungan adat ada zona Embulaka. Aloysius Sika (71), pemangku adat atau Mosalaki Mboto Au Nggela menuturkan, zona utara atau Bhisu Dheko Gele, merupakan zona paling awal. Hal itu menurut kedatangan suku asli Nggela.
Di dalam zona Bhisu Dheke Gele, terdapat Sa’o Labo, Sa’o Tua, Sa’o Meko, dan Sa’o Ame Ndoka serta empat buah rumah pendukung (Poa Paso) dan enam rumah penduduk. Selain itu, terdapat Kanga Ria (pelataran adat) yang merupakan tempat pelaksanaan upacara adat para Mosalaki. “Di atas Kanga ini ada Tubumusu. Sebuah batu lonjong, tempat untuk melatakan persembahan kepada para leluhur dan penguasa langit dan bumu. Kemudian ada sejumlah batu ceper, serta kuburan nenek moyang, Mosalaki Ine Ame dan Mosalaki Pu’u,” tuturnya.
Bagian barat atau Bhisu One merupakan, zona yang berada di tengah-tengah. Di dalamnya berdiri Sa’o Ria, Sa’o Pemoroja, dan Sa’o Ndoja, sebuah Poa Paso dan rumah penduduk. Juga ada Puse Nua yang merupakan titik pusat permukiman adat. Puse Nua dilambangkan dengan sebuah batu lonjong dan sejumlah batu ceper.

Di zona ini, ada sebuah kuburan yang berbentuk perahu (Rate Lambo) yang merupakan kuburan seorang arsitek atau Wulu Koli. Dia adalah sosok yang berjasa dalam pembangunan permukiman adat Nggela yang masih dipertahankan sampai saat ini.
Sementara itu, zona Bhisu Mbiri, yang berhadapan dengan zona Bhisu One berdiri Sa’o Leke Bewa, Sa’o Wewa Mesa, Sa’o Sambajativ dan Sa’o Watu Gana, serta ada tujuh buah rumah penduduk. Bhisu Embulaka merupakan, zona yang dihuni warga asal Portugis yang datang dan menetap di permukiman adat tersebut. Di dalam zona tersebut terdapat, Sa’o Embulaka, Sa’o Bewa, dan Sa’o Tana Tombu. Juga ada sebuah Poa Paso dan tiga buah rumah penduduk.
Bangun Kembali Rumah Adat
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Philipus Kami, menjelaskan, rumah adat di wilayah perkampungan adat masih banyak berdiri, dan terjaga keasliannya. Hanya saja, sebagian, sudah mulai luntur.
Hal tersebutlah yang akhirnya mendorong masyarakat adat yang mencakup Flores dan Lembata tersebut, untuk kembali membangun rumah adat. Hal itu menjadi penting, karena akan diwariskan kepada anak cucu.
Peran komunitas adat Nusa Bunga Flores Lembata dalam menjaga lingkungan, dilakukan dengan ritual adat. Masyarakat terus menanam pohon yang kayunya dipercayai mendatangkan keuntungan, baik untuk manusia maupun untuk kehidupan ekositem. “Saya juga terus mendorong untuk selalu menggunakan pupuk organik pada tanaman perkebunan maupun pertanian memperhatikan dampak yang akan datang tentu hal ini tidak mudah. Kami juga mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan pembangunan berbasis lingkungan,” terangnya.
Pembangunan rumah adat, tergantung penggunaannya. Para Mosalaki, sangat berharap agar generasi muda tetap merawat adat budaya yang telah diwariskan para leluhur. “Saya harus berani melewati tantangan, sebab ini merupakan pesan dari leluhur yang harus dilestarikan. Ini juga terkait dengan menjaga dan merawat segala ritual sebagai penghormatan atau penghargaan terhadap leluhur, penguasa langit dan bumi serta menjaga dan melestarikan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan,” pungkasnya.