Pilkada Lampung Diduga Sarat Politik Uang
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Ratusan massa yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Penyelamat Demokrasi (Kopdar), melakukan aksi unjuk rasa terkait hasil sementara pemilihan umum kepala daerah Lampung, karena diduga sarat politik uang.
Ratusan massa yang berkumpul di Lapangan Cipta Karya Kalianda, bergerak menuju ke depan kantor Bupati Lampung Selatan, dan menyampaikan orasi terkait hasil Pilkada Lampung yang dinilai penuh dengan kecurangan, khususnya politik uang.

Muhamad Suffi, salah satu orator dalam unjuk rasa di depan Kantor Bupati Lamsel dan DPRD Lamsel, mengajukan sejumlah tuntutan. Antara lain, usut tuntas politik uang, menolak hasil Pilkada Lampung, demokrasi bukan milik korporasi, menolak calon gubernur yang melakukan politik uang dalam Pilgub 2018.
Ia mengaku miris melihat adanya politik uang yang banyak dilaporkan ke Bawaslu dan Gakkumdu.
“Dalam Pilkada Lampung telah ditemukan distribusi gula, susu, sarung,
uang tunai, namun penegakkan hukum masih jauh dari harapan, bahkan kami menyebut Lampung darurat politik uang,” terang Muhamad Suffi, Jumat (6/7/2018).
Dalam orasinya, ia juga menyebut demokrasi rakyat melalui pilkada langsung gubernur Lampung telah digadai, dibajak oleh kepentingan koorporasi. Dalam Pilkada Lampung ini, katanya, siapa pun calonnya akan disetujui oleh masyarakat, asal tidak menggunakan cara-cara kotor dengan melakukan politik uang secara terstruktur, massif dan sistematis (TSN).
Kopdar juga menyebut, paslon tidak melakukan pelaporan dana kampanye secara jujur berdasarkan UU No.7/2017, dan beberapa aturan penyelenggaraan Pilkada Langsung.
Dimas Ronggo, salah satu orator dari Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Universitas Bandarlampung, menyebut rakyat Lampung membutuhkan komitmen paslon untuk mendedikasikan dirinya demi memajukan Lampung tanpa ditunggangi kepentingan korporasi.
