Pemrotes di Iran Salahkan Pemerintah Terkait Kekurangan Pasokan Air

Ilustrasi bendera Iran - Dok: CDN

TEHERAN, IRAN — Selama beberapa hari belakangan ini, warga di beberapa kota besar di Provinsi Khuseztan di bagian barat-daya Iran menggelar pertemuan protes mengenai kekurangan pasokan air bersih dan air mengalir yang tercemar.

Banyak orang di Kota Khorrasmshahr, yang berada di sebelah barat-daya Provinsi Khuzestan, yang kaya akan minyak, berkumpul di jalan-jalan pada Jumat dan Sabtu untuk memprotes kekurangan air minum dan meningkatnya kadar garam pada air yang mengalir di kota tersebut.

Pemrotes yang marah mengangkat botol air kosong dan menyalahkan pemerintah atas kesalahan penanganan pasokan air, kata Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Senin pagi.

Mereka meminta para pejabat menghentikan pengiriman air dari provinsi itu ke wilayah lain dan dugaan penjualan air bersih ke negara yang bertetangga.

Mereka menurut Gubernur Kota tersebut Vali-olah Hayati, tidak mampu dan mendesak dia meletakkan jabatan.

Pemerintah dilaporkan berubah jadi serangan dengan kekerasan terhadap bank dan gedung publik pada Sabtu malam, dan pemrotes melempar batu serta puing ke arah polisi, yang membalas dengan gas air mata.

Khorramshahr dan Abadan, dua kota besar utama di provinsi yang kaya akan energi itu, telah menghadapi kekurangan parah air bersih sejak awal musim panas pada Juni.

Pada Ahad, menteri dalam negeri Iran membantah laporan bahwa beberapa orang tewas selama protes Sabtu mengenai kekurangan air di Kota Khorramshahr di bagian barat-daya negeri tersebut, kata harian IRAN.

“Tak ada satupun kasus kematian. Ada satu kasus cedera semalam, dan ia (pemrotes) dibawa ke rumah sakit,” kata Abdolreza Rahmani Fazli dalam satu taklimat pada Ahad.

Ia menyerukan ketenangan dan mengatakan keamanan adalah keprihatinan inti Kementerian Dalam Negeri dan akan melakukan segala upaya untuk memeliharanya.

Selain itu, media lokal pada Ahad melaporkan sedikitnya 230 orang keracunan setelah minum air yang tercemar di Kabupaten Ramhormoz di Provinsi Khuzestan.

Shahyar Mirkheshti, Kepala Pusat Penanganan Peristiwa Medis Darurat di Khuseztan, sebelumnya mengatakan 65 orang telah dirawat di rumah sakit karena keracunan di Kabupaten Ramhormoz.

Iran sedang berjuang menghadapi kelangkaan air yang belum lama ini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Para pejabat Iran telah mengakui sistem irigasi dan pertanian yang sudah kuno dan kebijakan penanganan air yang buruk dalam tiga dasawarsa belakangan telah meningkatkan kekurangan air di seluruh negeri itu. Curah hujan di bawah rata-rata telah menambah parah keadaan.

Menteri Energi Iran Reza Ardakanian telah membantah Iran telah menjual air bersih ke negara tetangga.

Sementara itu, Aradakanian mengatakan kekurangan air di beberapa kota besar di Khuzestan akan diselesaikan paling lambat pertengahan Juli.

Ia mengatakan “penyesuaian terhadap kekurangan air adalah strategis utama pemerintah hari ini”, demikian laporan Financial Tribune pada Ahad.

Menteri itu memastikan Iran akan bisa mencegah becana akibat fenomena tersebut dengan mengubah kebijakannya yang keliru tepat pada waktunya dan mensahkan apa yang ia namakan “prilaku benar” dalam konsumsi air. [Ant]

Lihat juga...