Nelayan Pantai Selatan Cianjur Masih Takut Melaut
CIANJUR — Nelayan dan warga di pantai selatan Cianjur, Jawa Barat, belum berani melakukan aktivitas di pinggir pantai meskipun ketinggian gelombang sudah menurun sejak dua hari terakhir.
“Dibandingkan dua hari lalu, ketinggian gelombang sudah turun dari 9 meter menjadi 4 atau 5 meter. Namun nelayan dan warga belum berani melakukan aktivitas lama-lama di pinggir pantai,” kata Rahman warga Kecamatan Sindangbarang, saat dihubungi Sabtu (28/7/2018).
Saat ini, nelayan lebih memilih memperbaiki alat-alat untuk melaut dan menambal perahu yang bocor akibat dihantam gelombang. Hanya beberapa orang yang berani melaut meskipun hanya beberapa meter dari bibir pantai.
Bahkan warga pemilik warung di pinggiran pantai Sindangbarang dan Cidaun, belum berani membuka usahanya karena khawatir sewaktu-waktu gelombang kembali tinggi dan menghantam warung mereka.
“Meskipun perkiraan gelombang tinggi tidak akan terjadi setelah ada gerhana bulan, kami tetap mengimbau nelayan waspada dan tidak melakukan aktivitas sampai pemberitahuan selanjutnya dari pihak berwajib dan pemerintah kecamatan,” katanya.
Ia menambahkan ratusan nelayan di pantai selatan tetap berharap dan meminta dinas terkait di Pemkab Cianjur memberikan pelatihan untuk para nelayan agar tetap memiliki usaha ketika musim paceklik dan cuaca esktrem.
“Sebagian besar nelayan ketika paceklik ikan dan cuaca ekstrem, hanya menganggur. Sedikit yang bertani atau menjadi buruh kasar di kota. Harapan kami ada pelatihan keahlian yang kami dapatkan untuk tetap bertahan,” katanya.
Sementara puluhan pemilik warung pinggir pantai yang merangkap tinggal di dalam warung hingga kini masih mengungsi karena gelombang yang masih tinggi dibandingkan hari-hari biasa.
Mereka menumpang di rumah sanak saudarnya yang dinilai aman dari jangkauan gelombang yang sempat merusak puluhan warung di Pantai Jayanti, Sereg dan Apra. Mereka berharap gelombang tinggi segera berakhir. [Ant]