Empat Korban Tabrakan Perahu di Malaysia dari Flotim
Editor: Satmoko Budi Santoso
LARANTUKA – Empat orang korban tabrakan speed boat yang mengangkut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Ilegal dari Tawau Malaysia menuju Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Timur, Jumat (29/6/2018), dipastikan berasal dari Kabupaten Flores Timur (Flotim) Provinsi NTT.
“Empat orang sudah dipastikan dari Flotim, ada yang berasal dari Desa Lewohala dan ada dari Desa Riangkemie Kecamatan Ile Mandiri,” sebut Thomas Irianto Lewar, Kepala Desa Riangkemie, Minggu (1/7/2018).
Keempat korban tersebut, menurut pengakuan keluarga mereka, ada yang bernama Agustina Jawa Kelen atau akrab disapa Astin Kelen, berusia 32 tahun. Barek Beguir atau Barek Kelen usia 35 tahun dan Viani Nuktin atau Viani Mukin. Lalu ada pula seorang laki-laki lainnya, bernama Anis, menurut informasi berasal dari Ebak Kecamatan Tanjung Bunga.

“Memang ada perbedaan identitas terutama nama akhir para korban yang diduga dipalsukan untuk kepentingan pengurusan dokumen kependudukan ilegal. Alamat tinggal keempat korban, diketahui di Nunukan Kalimantan Timur,” terangnya.
Thomas mengharapkan perhatian pemerintah daerah Flotim untuk mengurus pemulangan jenazah para korban sebab keluarga dari para korban sangat miskin. Dirinya sedang mencari informasi tambahan ke Nunukan maupun ke Tawau Maltis soal kejadian dan pemulangan jenazah korban ke kampung halaman mereka.
“Kami juga sedang berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Flotim untuk membicarakan kemungkinan pemulangan jenazah. Kami sangat berduka sekali sebab seminggu sebelumnya pun seorang warga Riangkemie juga meninggal dunia di Tawau Malaysia,” paparnya.
Warga bernama Tino Koten tersebut, terang Thomas, juga meninggal akibat hanyut terbawa banjir Senin (25/6/2018) dan ditemukan Rabu (27/6/2018). Jenazah almarhum karena sudah rusak terpaksa dimakamkan di Tawau Malaysia, Kamis (28/6/2018).
“Kami berharap agar pemulangan jenazah ke kampung halaman mereka di Lewohala dan Riangkemie Ilemandiri bisa berjalan lancar. Sebab keluarga korban sangat berharap agar jenazah mereka bisa dimakamkan di kampung halaman mereka,” ungkapnya.
Bupati Flores Timur (Flotim), Antonius Hubertus Gege Hadjon, mengaku belum mendapatkan informasi resmi terkait kejadian tersebut dan adanya warga yang meninggal dalam kecelakaan. Namun dirinya telah memerintahkan staf untuk melakukan penelusuran.
“Saya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk pemulangan jenazah para korban. Tentu ada pembagian-pembagian tugas dan kewenangan,” sebutnya.
Bupati Anton juga menyampaikan turut berduka kepada keluarga korban dan berjanji akan memperjuangkan agar korban yang meninggal dan merupakan warga Flotim bisa dipulangkan ke tempat kelahiran mereka agar dimakamkan secara layak.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Flotim, kami menyampaikan turut berduka. Pemerintah berharap agar masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri menempuh jalur resmi,” pungkasnya.
Data yang diperoleh menyebutkan, sejauh ini korban kapal yang berhasil ditemukan adalah 20 orang. Dari 20 orang tersebut, 13 selamat dengan menderita luka-luka, 5 orang meninggal dunia, dan 2 orang masih hilang, belum ditemukan.