Pascaerupsi, Status Gunung Anak Krakatau Masih Waspada

Eitor: Koko Triarko

LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda mengalami erupsi pada Senin (25/6/2018), pukul 07:14 WIB, dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 1.000 meter di atas puncak, atau kurang lebih 1.305 di atas permukaan laut.
Andi Suardi (50), Ketua Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, mengatakan, pascaerupsi tersebut, status Gununga Anak Krakatau hingga kini tetap dalam level Waspada.
Andi menjelaskan, laporan tersebut berasal dari pos pantau Pasauran, Banten, sementara pantauan dari pos pantau Desa Hargo Pancuran secara visual sempat tertutup kabut disertai hujan.
Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan GAK memperlihatkan alat seismograf pencatat kegempaan [Foto: Henk Widi]
Ia juga mengatakan, sebelum erupsi pada Senin (25/6), GAK  terakhir mengalami erupsi pada 2 September 2012. Letusan menghasilkan kolom asap setinggi 1.000 meter, dan letusan berikutnya didominasi oleh letusan tipe strombolian.
Andi Suardi yang juga selaku Kepala Pos Pantau GAK  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi, mengatakan, hujan disertai kabut membuat pengamatan secara visual mempergunakan teropong binokular untuk mengamati pergerakan awan.
“Hembusan awan letusan mengarah ke Timur, namun tidak membahayakan dan kondisi awan dan hujan membuat pengamatan secara visual agak terganggu, dan seismometer di GAK, sehingga terjadi gangguan sinyal yang tidak terbaca di pos pengamatan GAK Hargo Pancuran,“ terang Andi Suardi, Senin (25/6/2018).
Pascaerupsi tersebut, ia menyebut masyarakat dilarang mendekat dari lokasi Gunung Anak Krakatau dengan radius 1 hingga 2 kilometer, terutama bagi nelayan serta masyarakat.
Andi Suardi, menyebut sesuai dengan data peta kawasan rawan bencana GAK, ditetapkan meliputi Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Rakata.
Sistem pemantauan GAK diakuinya diamati secara visual menggunakan teropong binokular untuk mengamati tinggi asap solfatara, pengukuran suhu solfatara, pemeriksaan lapangan secara periodik.
Selain itu, aktivitas seismik mempergunakan sistem radio telemetri dan pencatat gempa tipe PS-2, lokasi seismometer di Pulau Panjang (132 Meter) dan Pulau Rakata (813 Meter) yang merupakan pulau tak berpenghuni.
Sesuai data laporan fungsional bulanan pos pengamatan GAK, secara visual cuaca di pos dan sekitarnya selama bulan Juni umumnya terang hujan. Angin bertiup dari Barat ke Timur dengan suhu udara maksimum 30 derajat celcius dan minimum 26 derajat celcius.
Sesuai data seismik sepanjang bulan Juni, tercatat  gempa tektonik jauh dan lokal dengan rata-rata 1 hingga 3 kali kegempaan per hari. Sementara gempa vulkanik meliputi vulkanik dangkal berkisar 2 hingga 30 kegempaan per hari. Gempa vulkanik dalam rata-rata 30 hingga 100 kegempaan per hari.
“Data harian gempa tektonik dan gempa vulkanik pada akhir bulan akan dihitung dari data pesawat seismograf yang terpasang di pos pantau,” terang Andi Suardi.
Sementara itu, sejumlah nelayan di perairan Selat Sunda tidak terpengaruh dengan adanya informasi erupsi Gunung Anak Krakatau. Hendra, salah satu nelayan di pesisir Bakauheni, menyebut saat ini kegiatan penangkapan ikan di laut tetap berlangsung seperti biasa.
Lokasi penangkapan ikan bahkan disebut Hendra masih tetap berlangsung, karena sejak puluhan tahun nelayan sudah terbiasa dengan aktivitas gunung api di Selat Sunda.
Lihat juga...