Arus Balik Lebaran, Keuntungan Menggiurkan Pedagang Musiman
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Hari raya Idul Fitri dengan tradisi mudik dan balik menjadi peluang usaha bagi warga yang tinggal di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Peluang usaha yang dilirik oleh warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni di antaranya berjualan oleh-oleh khas Lampung.
Susanto (30), salah satu warga menyebut, tahun ini merupakan tahun kesembilan dirinya memanfaatkan arus angkutan Lebaran untuk berjualan. Arus mudik dan balik disebutnya memberi keuntungan sebagai pedagang oleh-oleh musiman.
Susanto menyebut, beberapa barang yang dijual di antaranya kopi bubuk, keripik, kerupuk kemplan panggang, minuman ringan hingga buah segar khas Lampung seperti sirsak, pisang, nangka.

Perubahan lokasi berjualan tersebut menyesuaikan dengan arus kedatangan pemudik asal Jawa ke Sumatera. Pada arus mudik, Susanto bersama ratusan pedagang musiman lain sengaja menyiapkan lapak dadakan terbuat dari bambu, kayu beratapkan terpal.
Meski sederhana, ia menyebut, tempat berjualan dadakan tersebut bisa menghasilkan keuntungan Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari. Hasil tersebut diakuinya diperoleh saat Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) belum dioperasikan dengan jalan utama menggunakan Jalinsum.
“Saya bersama istri memiliki warung di rumah. Saat angkutan Lebaran sengaja memanfaatkan peluang untuk berjualan di sepanjang Jalinsum dengan harapan mendapatkan pembeli banyak,” terang Susanto, salah satu warga yang memanfaatkan arus balik untuk berjualan oleh-oleh saat ditemui Cendana News di dekat rest area Bakauheni, Sabtu (16/6/2018).

Omzet yang meningkat tersebut diakuinya diperoleh dengan adanya faktor kendaraan roda dua dan roda empat yang kerap mampir di KM 01 Bakauheni. Saat arus mudik pemudik asal Pulau Jawa yang melintas bahkan memilih mampir di lokasi tempat berjualan oleh-oleh untuk membeli minuman ringan dan oleh-oleh.
Keuntungan menjanjikan tersebut hanya diperoleh saat arus mudik hingga arus balik. Saat hari biasa ia menyebut hanya berjualan di warung miliknya dengan omzet sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari.
Saat angkutan mudik dan balik Lebaran ia sengaja membeli kerupuk kemplang, keripik dan oleh-oleh lain dari produsen di wilayah Sidomulyo, Bakauheni. Sistem kulakan disebutnya dilakukan sepekan sebelum arus mudik dan arus balik.
“Kami pesan jauh hari agar mendapat barang untuk dijual karena saat arus Lebaran banyak warga yang mencoba peruntungan sebagai pedagang musiman,” terang Susanto.

Pedagang lain bernama Zainudin (30) sehari-hari bekerja sebagai pengurus jasa penyeberangan truk ekspedisi. Saat kendaraan truk nonsembako dilarang melintas pada arus mudik, dirinya memilih mencoba peruntungan dengan berjualan oleh-oleh.
Setiap angkutan Lebaran dengan keuntungan menjanjikan, Zainudin memilih area bahu jalan untuk berjualan. Sebelumnya, lokasi berjualan hingga pintu masuk pelabuhan bisa dipergunakan tapi satu tahun terakhir ada larangan diberlakukan guna mengurangi kemacetan.
“Dua tahun ini lokasi berjualan diperbolehkan sekitar satu kilometer dari Pelabuhan Bakauheni untuk atasi kemacetan,” beber Zainudin.
Meski berjualan musiman cukup menjanjikan, Zainudin justru mengalami penurunan omzet berjualan dua tahun terakhir. Faktor semakin sedikitnya kendaraan roda empat melintas di Jalinsum dan memilih jalan tol Sumatera menjadi penyebab menurunnya pendapatan.
Ia bahkan biasa menjual sekitar tiga ball kerupuk kemplang ukuran kecil berisi 20 bungkus kerupuk, kini hanya bisa menjual dua ball.
Meski mengalami penurunan omzet, ia menyebut, berdagang musiman masih tetap menjanjikan. Selain memiliki warung di rumah ia mengaku peluang saat angkutan mudik Lebaran menjadi sumber penghasilan alternatif.
Dibanding penghasilan berjualan di warung, penjualan dengan sistem musiman memberi penghasilan lebih besar dibandingkan berjualan di warung.