Solok Selatan Kerja Keras Keluar dari Daerah Tertinggal
PADANG ARO – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, optimis bisa keluar sebagai daerah tertinggal pada 2019, karena sekarang sudah berada pada urutan ke-18 dari 122 daerah tertinggal di Indonesia.
“Tahun lalu kita masih di urutan 35, dan sekarang naik ke nomor 18,” kata Sekretaris Daerah Solok Selatan, Yulian Efi di Padang Aro, Jumat (4/5/2018).
Ia mengatakan, saat ini pemerintah daerah fokus meningkatkan indikator yang belum tercapai, agar pada 2019 bisa keluar dari ketagori daerah tertinggal.
Hingga 2019, pemerintah pusat menargetkan membebaskan 50 daerah tertinggal, dengan kemajuan yang diraih Solok Selatan dan posisi saat ini di urutan 18 diyakini daerah ini akan terhapus dari status daerah tertinggal.
“Kita sedang bekerja keras dengan memprioritaskan indikator yang belum tercapai, agar target tersebut bisa diraih,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Solok Selatan, Hary Trisna, mengatakan sesuai ekspose Bupati di Kementerian Desa, ada beberapa indikator yang perlu segera diintervensi supaya target keluar dari daerah tertinggal pada 2019 bisa terealisasi.
Pertama, sumber daya manusia pada angka harapan hidup yang saat ini masih rendah 66,78 persen per tahun atau masih di bawah rata-rata provinsi. Hal ini terjadi karena tenaga medis yang terbatas, kondisi geografis, masih rendahnya penduduk memiliki jaminan pelayanan kesehatan, serta sarana dan prasarana.
Untuk mengatasi ini, pemerintah setempat sudah melakukan peningkatan akses sanitasi dasar, air minum, pelayanan dan promosi kesehatan.
Selanjutnya kemampuan keuangan daerah, karena APBD belum optimal dalam membiayai pembangunan semua sektor prioritas dan mendesak.
Untuk meningkatkan kemampuan daerah, pemerintah Solok Selatan meningkatkan pembangunan sektor pariwisata, guna meningkatkan PAD.
Selain itu, meningkatkan komunikasi dengan pihak swasta terkait dana perusahaan, dan meningkatkan iklim investasi daerah melalui kepastian hukum dan kemudahan investasi.
Selanjutnya, karakteristik daerah seperti gempa bumi, banjir, bencana lainnya, kawasan hutan lindung, lahan kritis dan desa konflik.
Untuk karakteristik daerah, 39 nagari (desa adat) di Solok Selatan rawan gempa bumi, 19 nagari rawan banjir, 12 nagari rawan longsor, delapan nagari rawan erupsi Gunung Kerinci, 11 nagari rawan kebakaran hutan dan lahan, lima lagi rawan kekeringan dan dua nagari rawan konflik.
Selanjutnya dari segi infrastruktur, jalan aspal beton dan diperkeras menjadi prioritas, guna keluar dari daerah tertinggal.
“Indikator karakteristik daerah agak sulit dicapai, sebab tidak bisa diubah seperti daerah rawan bencana,” katanya. (Ant)