Sate Tupai, Kuliner Ekstrem Sembuhkan Ragam Penyakit
Editor: Satmoko
SOLO – Tupai atau hewat perengat yang sering menjadi hama bagi sebagian besar petani kelapa maupun buah ini ternyata menjadi kuliner yang banyak diminati.
Meski tergolong kuliner ekstrem, olahan tupai justru memiliki daya tarik tersendiri karena banyak bermanfaat bagi kesehatan.
Nah, jika Anda pecinta kuliner atau bermasalah dengan kesehatan yang tak kunjung sembuh, kuliner yang satu ini bisa menjadi alternatif. Salah satu warung yang ada di Jalan Matesih-Tawangmangu, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah ini menyediakan berbagai olahan binatang ekstrem. Salah satunya adalah sate tupai.

“Awalnya hanya ingin memanfaatkan tupai yang menjadi hama di kebun. Kebetulan di rumah ada delapan pohon durian, tapi tidak pernah panen. Setelah sempat ditembak, coba-coba dimasak ternyata rasanya juga enak. Baru kemudian mencoba dijual di warung,” kata Sukatno, pemilik warung kuliner ekstrem, Sabtu (19/5/2018).
Di warung yang sudah berjalan selama 8 tahun ini, daging tupai dimasak dengan berbagai masakan. Seperti rica, tongseng dan sate. Namun sate tupai yang paling banyak diminati para pecinta kuliner ekstrem.
Sebagian besar pelanggan yang datang ke warungnya pun beragam. Mulai dari anak muda, maupun yang sudah tua, yang penasaran dengan olahan tupai.
Bahkan, menurut pria 52 tahun ini, banyak pelanggan yang datang untuk bisa menikmati sate tupai karena memiliki masalah kesehatan. Dirinya juga awalnya tidak mengetahui jika tupai memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
“Ada pembeli yang mengaku makan sate tupai untuk mengobati sakit diabetes. Ada pula yang karena sesak nafas, maupun rematik,” ungkapnya.
Setelah digali lebih lanjut, daging tupai ternyata juga bisa mengobati penyakit lainnya. Seperti kencing manis, ginjal, kolesterol, liver, mencegah kanker, serta berbagai penyakit lainnya. Banyaknya minat pelanggan yang ingin menikmati sate tupai membuat warungnya tak pernah sepi pembeli.
Cara memasak sate tupai pun tak jauh beda dengan penyajian sate daging pada umumnya. Yakni langkah pertama tupai terlebih dahulu dibersihkan kulitnya, sebelumnya dipotong menjadi bagian kecil untuk dimasukkan dalam tusuk sate. Agar daging tupai tidak alot, terlebih dahulu direbus kurang lebih 30 menit.
“Setelah itu daging tupai dibumbui dengan campuran merica dan kunir. Untuk membakar sate tupai membutuhkan waktu sekitar 10 -15 menit agar campuran bumbu dapat meresap dalam daging,” terang dia.
Dalam penyajian, sate tupai dipadu dengan bumbu kacang serta irisan bawang, tomat,dan cabai. “Setelah selesai, sate tupai pun siap disajikan,” imbuhnya.
Sate tupai yang memiliki tekstur daging berbeda serta aroma yang khas menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Alasan pelanggan menikmati sate tupai selain untuk kesehatan juga karena kuliner yang cukup ekstrem.
Tupai yang dikenal sebagai hewan hama, ternyata memiliki cita rasa yang tinggi. “Awalnya penasaran saja. Ada tupai dimasak menjadi sate. Setelah mencoba ternyata dagingnya empuk dan enak,” papar Efrem Siregar, salah satu pembeli.
Pria asal Medan ini mengaku baru kali pertama menikmati sate tupai. Ini pun dijumpainya tanpa sengaja saat melintas dari Magetan, Jawa Timur melewati Tawangmangu, Karanganyar.
“Tidak tahu, karena memang jarang lewat juga. Penasaran dengan rasanya, akhirnya kita berhenti dan mencobanya,” ucapnya.
Untuk bisa menikmati sate tupai ini, pelanggan tidak perlu merogoh uang yang banyak. Satu porsi sate tupai dipatok dengan harga Rp 30.000.